Akhir Pekan, Rupiah Ditutup Menguat 37 Poin

  • 04 Sep 2026 19:08 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Mengacu data Bloomberg, rupiah hari ini ditutup naik 0,21 persen atau 37 poin ke posisi Rp17.642 per dolar AS.
  • Penguatan rupiah tidak lepas dari pengaruh sentimen positif pasar terhadap pernyataan pejabat the Fed, Christopher Waller yang 'dovish' (longgar)
  • Pelaku pasar masih menunggu rilis data tenaga kerja non-pertanian atau  Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat

RRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah melanjutkan penguatan terhadap dolar AS di akhir pekan ini. Mengacu data Bloomberg, rupiah hari ini ditutup naik 0,21 persen atau 37 poin ke posisi Rp17.642 per dolar AS.

Penguatan rupiah tidak lepas dari pengaruh sentimen positif pasar terhadap pernyataan pejabat the Fed, Christopher Waller. “Waller mengatakan melihat beberapa tanda disinflasi dan keputusan suku bunga bulan September bergantung pada inflasi bulan Agustus,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Jumat, 4 September 2026.

Waller juga mengatakan akan mendukung kebijakan mempertahankan suku bunga tidak berubah, jika data inflasi Agustus mengkonfirmasi kemajuan data terbaru. Pelaku pasar masih menunggu rilis data tenaga kerja non-pertanian atau Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat.

Data NFP akan menjadi petunjuk baru terkait prospek kebijakan moneter the Fed. Data NFP diprakirakan akan menunjukkan adanya penambahan 50.000 pekerjaan baru di bulan Agustus.

“Sedangkan tingkat pengangguran diproyeksikan tetap stabil di angka 4 persen,” ucap Ibrahim. Selain data ekonomi AS, pasar juga terus mencermati perkembangan di Timur Tengah.

Di dalam negeri, Ibrahim mencermati kondisi kelas menengah yang pendapatannya terus menurun. Namun, kelas menengah tidak termasuk kelompok masyarakat yang mendapat bantuan sosial dari pemerintah.

“Salah satu cara untuk mengangkat kembali kondisi kelas menengah adalah mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi. Tapi, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih di kisaran 5 persen sehingga belum cukup kuat untuk mendorong industrialisasi,” ujar Ibrahim.

Sehingga, lanjutnya, penciptaan lapangan kerja formal masih minim sehingga belum memunculkan kelas-kelas menengah baru. “Untuk menciptakan lapangan kerja yang lebih luas, pertumbuhan ekonomi setidaknya harus mencapai 6-6,5 persen,” ucap Ibrahim.

Namun untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 6 persen juga tidak mudah. Apalagi di tengah trend suku bunga yang meningkat dan tensi geopolitik yang tidak menentu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....