IHSG Terkoreksi 0,28 Persen saat Jeda Siang Perdagangan Hari Ini

  • 02 Sep 2026 12:23 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • IHSG turun 0,28 persen ke level 6.581,44 saat jeda siang perdagangan Rabu, 2 September 2026.
  • BNI Sekuritas memproyeksikan koreksi wajar IHSG, dengan level support 6.540-6.570 dan resistance 6.620-6.700.
  • Sentimen global dan inflasi domestik menjadi perhatian investor, terutama kenaikan harga minyak serta inflasi tahunan 3,19 persen.

RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di posisi melemah saat jeda siang perdagangan, Rabu, 2 September 2026. Hingga penutupan sesi I, IHSG tercatat di level 6.581,44, atau turun 18,49 poin (0,28 persen).

IHSG sebelumnya dibuka menguat 0,39 persen ke level 6.625, dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Namun, IHSG sempat menyentuh level terendah di posisi 6.561 hingga penutupan sesi I.

Pergerakan IHSG tersebut sejalan dengan proyeksi BNI Sekuritas yang memperkirakan indeks berpotensi mengalami koreksi pada perdagangan hari ini. Sebelumnya, IHSG menguat signifikan 1,14 persen pada penutupan Selasa, 1 September 2026, ke level 6.599,94.

Kenaikan IHSG pada perdagangan sebelumnya ditopang aksi beli investor asing yang mencapai Rp1,76 triliun. Saham yang paling banyak dibeli investor asing antara lain BBRI, BBCA, BMRI, TPIA, dan CPIN.

"IHSG berpotensi koreksi wajar hari ini. Level support akan bergerak di rentang 6.540-6.570 dan level resistansi di rentang 6.620-6.700," kata Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, Rabu, 2 September 2026.

Fanny juga mencermati pelemahan bursa saham global yang dipengaruhi kekhawatiran terhadap kenaikan harga minyak. Kondisi tersebut turut menekan pasar saham Amerika Serikat pada perdagangan Selasa.

"Bursa saham di Amerika Serikat anjlok pada Selasa kemarin. Dow Jones Industrial Average ambles lebih dari 400 poin," ucapnya.

Menurut Fanny, kenaikan harga minyak meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan mendorong naik imbal hasil obligasi Amerika Serikat. Perkembangan tersebut kembali memunculkan perhatian pasar terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve atau The Fed.

Harga minyak meningkat setelah Komando Pusat Amerika Serikat menyatakan pasukannya menyerang target Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC di Iran. Harga minyak mentah WTI melonjak 5,2 persen, sedangkan Brent naik 4,6 persen sejak awal pekan.

"Di sisi lain, The Fed dijadwalkan menggelar pertemuan kebijakan berikutnya dalam dua pekan mendatang. Selain itu, pasar masih menunggu laporan data tenaga kerja nonfarm payrolls (NFP) Agustus yang akan dirilis pada Jumat mendatang," ujar Fanny.

Tekanan kenaikan harga minyak juga terasa di pasar saham kawasan Asia pada perdagangan Selasa. Mayoritas bursa saham Asia melemah, dengan pengecualian Taiwan dan Korea Selatan.

Indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,15 persen dan Hang Seng Hong Kong melemah 0,93 persen. Sementara itu, Taiex Taiwan melesat 1,8 persen dan KOSPI Korea Selatan naik 0,23 persen.

"Kekhawatiran akan kembali memanasnya konflik bersenjata di Timur Tengah membebani sentimen investor," ucap Fanny.

Sementara dari dalam negeri, perhatian investor turut tertuju pada perkembangan inflasi yang dilaporkan Badan Pusat Statistik.

BPS mencatat Indeks Harga Konsumen mengalami inflasi 0,21 persen secara bulanan pada Agustus 2026. Secara tahunan, inflasi Agustus 2026 mencapai 3,19 persen atau meningkat dibandingkan inflasi tahunan pada bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 2,88 persen.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....