Tutup Pekan, Rupiah Menguat di Tengah Sikap Hati-hati Pasar
- 28 Agt 2026 18:43 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup naik 0,29 persen atau 51 poin ke posisi Rp17.693 per dolar AS
- Rupiah menguat ditengah kehati-hatian pelaku pasar jelang pidato Ketua the Fed, Kevin Warsh di simposium Jackson Hole
- Pelaku pasar juga cenderung menahan diri sambil menunggu data inflasi dan data ekonomi lainnya yang akan dirilis BPS awal pekan depan
RRI.CO.ID, Jakarta – Rupiah bergerak menguat sepanjang hari ini, sejak pembukaan hingga penutupan perdagangan. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup naik 0,29 persen atau 51 poin ke posisi Rp17.693 per dolar AS.
Rupiah menguat ditengah kehati-hatian pelaku pasar jelang pidato Ketua the Fed, Kevin Warsh di simposium Jackson Hole. Warsh dijadwalkan menyampaikan pidatonya pada Jumat, jam 10.00 pagi waktu AS.
“Pidato besar pertamanya sebagai Ketua Fed di Jackson Hole ini dipantau ketat pasar. Mereka akan mencermati sinyal mengenai inflasi dan untuk mendapatkan petunjuk mengenai arah suku bunga AS,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Jumat 28 Agustus 2026.
Sementara itu, data Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi di AS yang menguat , memperumit prospek pelonggaran moneter. Perangkat CME Fedwatch menunjukkan peluang kenaikan suku bunga sebesar 34 persen pada bulan September.
Perangkat tersebut juga memperlihatkan probabilitas 74 persen untuk kenaikan suku bunga the Fedd pada bulan Desember 2026. Di dalam negeri, Ibrahim menyebut pasar merespons positif penetapan Destry Damayanti sebagai Gubernur BI oleh Komisi XI DPR RI.
Tetapi pelaku pasar cenderung menahan diri untuk tidak bersikap agresif, sebelum melihat angka inflasi resmi. Data inflasi akan diumumkan oleh Badan Pusat Statistik pekan depan.
“Data inflasi menjadi indikator krusial bagi Bank Sentral dalam menentukan arah kebijakan moneter dan suku bunga ke depan. Inflasi yang terkendali dapat membuka ruang bagi pelonggaran kebijakan, sementara inflasi yang tinggi akan memaksa suku bunga tetap ketat,” ujar Ibrahim.
Selain data inflasi, BPS juga akan menyampaikan perkembangan data perdagangan luar negeri Indonesia. Data tersebut mencerminkan kondisi pasokan, permintaan, dan biaya distribusi barang, termasuk pangan di tingkat global maupun domestik.
Jika data menunjukkan lonjakan impor pangan, artinya pasokan dalam negeri sedang menipis atau tergantung pada negara lain. Di sisi lain, melemahnya mata uang rupiah dalam laporan perdagangan membuat biaya impor pangan menjadi lebih mahal.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....