BI Catat Neraca Pembayaran Indonesia Masih Defisit Sebesar 900 Juta Dolar AS
- 21 Agt 2026 15:35 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan II 2026 tercatat mengalami defisit sebesar USD900 juta, menurun dibandingkan triwulan I 2026 yang tercatat sebesar USD9,1 miliar
- Bank Indonesia (BI) menilai kinerja NPI tetap terjaga dengan defisit yang lebih rendah
- NPI masih defisit diantaranya disebabkan oleh defisit neraca perdagangan migas yang meningkat akibat kenaikan impor minyak sejalan tingginya harga minyak dunia
RRI.CO.ID, Jakarta - Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan II 2026 tercatat mengalami defisit sebesar USD900 juta. Defisitnya menurun dibandingkan triwulan I 2026 yang tercatat sebesar USD9,1 miliar.
Bank Indonesia (BI) menilai kinerja NPI tetap terjaga dengan defisit yang lebih rendah. "Transaksi berjalan mencatat defisit didorong kenaikan defisit neraca perdagangan migas dan penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas," kata Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan tertulis, Jumat, 21 Agustus 2026.
Sementara itu, transaksi modal dan finansial mencatat surplus, ditopang oleh peningkatan aliran masuk investasi langsung dan investasi portofolio. Posisi cadangan devisa pada akhir Juni 2026 tetap terjaga sebesar USD145,6 miliar.
Cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Posisi cadangan devisa juga berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Menurutnya, sejumlah faktor mempengaruhi transaksi berjalan sehingga mengalami defisit, meski faktor nya bersifat temporer. Diantaranya defisit neraca perdagangan migas yang meningkat akibat kenaikan impor minyak sejalan tingginya harga minyak dunia.
Sementara itu, surplus neraca perdagangan nonmigas lebih rendah. Hal ini disebabkan oleh peningkatan impor nonmigas untuk kebutuhan kegiatan ekonomi dalam negeri yang masih tinggi.
Selain itu, defisit neraca pendapatan primer meningkat sejalan dengan pembayaran pendapatan primer. Sedangkan surplus neraca pendapatan sekunder relatif stabil dibandingkan capaian pada triwulan I 2026.
"Dengan kondisi tersebut, defisit transaksi berjalan pada triwulan II 2026 tercatat sebesar USD12,5 miliar atau 3,3 persen dari PDB. Defisitnya lmelebar dibandingkan dengan defisit pada triwulan sebelumnya sebesar USD3,6 miliar atau 1,0 persen dari PDB," katanya, menjelaskan.
Untuk transaksi modal dan finansial tercatat surplus didukung oleh peningkatan aliran masuk investasi langsung dan investasi portofolio. Investasi langsung mencatat surplus yang lebih tinggi dibandingkan dengan surplus pada triwulan sebelumnya.
Surplus investasi langsung dipengaruhi oleh terjaganya persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian dan iklim investasi domestik. Sedangkan investasi portofolio surplusnya meningkat seiring kenaikan imbal hasil instrumen keuangan domestik.
Dari sisi investasi lainnya mencatat defisit yang lebih rendah. Sehingga transaksi modal dan finansial mencatat surplus sebesar USD12,0 miliar pada triwulan II 2026, setelah mengalami defisit pada triwulan I sebesar USD4,8 miliar.
Dengan perkembangan tersebut, BI menprakirakan prospek NPI ke depan tetap baik untuk mendukung ketahanan eksternal. "Defisit transaksi berjalan diprakirakan lebih rendah didukung perbaikan prospek ekspor," ucap Denny.
Kinerja ekspor Indonesia diprakirakan akan meningkat sejalan kenaikan harga komoditas global, termasuk harga komoditas unggulan ekspor Indonesia. Penurunan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS), lanjut Denny, juga akan memberikan dampak positif pada kinerja ekspor Indonesia.
Sedangkan prospek transaksi modal dan finansial diprakirakan tetap surplus ditopang oleh berlanjutnya aliran masuk modal asing. Hal tersebut disebabkan imbal hasil instrumen keuangan domestik yang menarik dan prospek ekonomi Indonesia yang positif.
"Selain itu, sinergi kebijakan Pemerintah dan Bank Indonesia juga terus diperkuat untuk menopang kinerja NPI 2026. Mengingat kondisi ketidakpastian global yang masih tinggi," ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....