IHSG Menguat ke Level 6.272 pada Pembukaan Perdagangan Pagi Ini

  • 03 Agt 2026 09:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • IHSG dibuka menguat 36,61 poin atau 0,59 persen ke level 6.272,61 pada perdagangan Senin, 3 Agustus 2026.
  • BNI Sekuritas memproyeksikan IHSG berpeluang menguji level 6.300, namun masih berpotensi terkoreksi jika gagal menembus area resistansi.
  • Investor mencermati sentimen global dan domestik, mulai dari konflik Timur Tengah, pergerakan harga minyak, hingga rilis data ekonomi Indonesia pekan ini.

RRI.CO.ID, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada perdagangan Senin, 3 Agustus 2026. IHSG berada di level 6.272,61, naik 36,61 poin atau 0,59 persen dibandingkan penutupan Jumat lalu di level 6.236,00.

Penguatan tersebut melanjutkan tren positif yang tercatat pada akhir pekan lalu. Meski demikian, aliran dana asing masih mencatatkan jual bersih atau net sell sekitar Rp35 miliar di pasar saham.

Berdasarkan data BNI Sekuritas, saham yang paling banyak dilepas investor asing meliputi BBCA, AMMN, ANTM, UNTR, dan TLKM. Kondisi ini menunjukkan investor masih bersikap selektif di tengah penguatan indeks.

Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, menilai peluang penguatan IHSG masih terbuka pada perdagangan hari ini. Namun, ia mengingatkan pelaku pasar untuk mewaspadai potensi koreksi apabila indeks gagal menembus area resistansi berikutnya.

"IHSG hari ini berpeluang melanjutkan kenaikan menuju level resistansi kuat di 6.300. Namun, apabila belum mampu bertahan di atas level tersebut, IHSG berpotensi kembali mengalami koreksi," kata Fanny Suherman, Senin, 3 Agustus 2026.

Fanny memperkirakan IHSG akan bergerak dengan level support di kisaran 6.120 hingga 6.200. Sementara itu, level resistance diperkirakan berada pada rentang 6.270 hingga 6.300.

Menurutnya, sentimen global masih menjadi perhatian utama investor. Konflik di Timur Tengah yang belum mereda berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dan memicu kembali tekanan inflasi.

Harga minyak mentah WTI tercatat naik sekitar 1,3 persen menjadi 84,68 dolar Amerika Serikat per barel. Sementara itu, minyak Brent menguat 1,2 persen ke level 90,12 dolar Amerika Serikat per barel.

Selain itu, pasar juga mencermati sikap Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, dalam mengendalikan inflasi. Pernyataannya yang menyebut tidak ada solusi instan untuk meredam tekanan harga dinilai belum sepenuhnya mampu menenangkan pelaku pasar.

Meski demikian, bursa saham Amerika Serikat dan sebagian besar pasar Asia berhasil ditutup menguat pada akhir pekan lalu. Kondisi tersebut turut memberikan sentimen positif terhadap pergerakan pasar saham regional.

Dari dalam negeri, investor menantikan sejumlah data ekonomi penting yang akan dirilis sepanjang pekan ini. Tim Analis Phintraco Sekuritas menyebut data PMI Manufaktur, pertumbuhan ekonomi, indeks harga properti, hingga cadangan devisa akan menjadi perhatian pelaku pasar.

Hari ini, Badan Pusat Statistik juga dijadwalkan mengumumkan data inflasi dan neraca perdagangan Indonesia. Kedua indikator tersebut diperkirakan akan memengaruhi arah pergerakan IHSG dalam jangka pendek.

"Di sisi lain, penurunan harga BBM non-subsidi yang mulai berlaku sejak 1 Agustus 2026 berpotensi menjadi tambahan sentimen positif bagi pasar," kata Tim Analis Phintraco Sekuritas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....