Akhir Pekan Rupiah Ditutup Menguat 89 Poin

  • 31 Jul 2026 17:08 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup naik 0,49 persen atau 89 poin ke posisi Rp18.022 per dolar AS
  • Dari sisi eksternal, harga minyak mentah yang turun mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah
  • Dari dalam negeri, pelaku pasar mencermati keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait dana MBG

RRI.CO.ID, Jakarta - Penguatan rupiah terhadap dolar AS berlanjut dalam penutupan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup naik 0,49 persen atau 89 poin ke posisi Rp18.022 per dolar AS.

Dari sisi eksternal, harga minyak mentah yang turun mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah. Harga minyak menurun karena perkembangan konflik di Timur Tengah.

"Meski ketegangan di Timur Tengah meningkat, tapi diimbangi oleh tanda-tanda peningkatan arus lalu lintas di Selat Hormuz," kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Jumat, 31 Juli 2026.

Sementara itu, Arab Saudi berupaya memimpin koalisi untuk meningkatkan kerja sama pertahanan di Selat Bab El-Mandeb, Laut Merah, dan Teluk Aden. Ketiganya merupakan titik-titik krusial bagi pasokan energi.

"Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyatakan, 14 negara mendukung koalisi pertahanan maritim multinasional tersebut. Diantaranya negara Djibouti, Mesir, Pakistan, Sudan, dan Turki," ujar Ibrahim.

Dari sisi ekonomi, data Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) inti di AS, lebih rendah dari perkiraan. Data tersebut membantu meredakan kekhawatiran mengenai tingginya inflasi dan suku bunga.

Data PCE inti merupakan indikator inflasi yang menjadi acuan utama The Fed. "Tetapi indeks PCE inti masih berada jauh di atas target tahunan The Fed sebesar 2 persen," ujar Ibrahim.

Pasar, menurut Ibrahim, sudah memperhitungkan kemungkinan the Fed menaikkan suku bunga. "Setidaknya satu kali kenaikan suku bunga pada akhir tahun ini," ucap Ibrahim.

Dari dalam negeri, pelaku pasar mencermati keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait dana MBG. MK menyatakan, anggaran untuk Program Makan MBG wajib dipisahkan dari alokasi anggaran pendidikan.

"Bagi pelaku pasar, hal tersebut dinilai dapat memperkuat reformasi tata kelola terkait program unggulan Presiden Prabowo," kata Ibrahim

Pelaku pasar juga memprakirakan laju inflasi kembali melandai pada Juli 2026. Prakiraan itu seiring meredanya tekanan harga pangan dan normalisasi kenaikan harga yang diatur pemerintah.

"Meski demikian, para ekonom mengingatkan risiko inflasi belum sepenuhnya hilang. Penyebabnya pelemahan rupiah, potensi El Nino, hingga meningkatnya permintaan pangan masih berpotensi mendorong kenaikan harga," kata Ibrahim.

Menurut Ibrahim, sejumlah ekonom memperkirakan inflasi tahunan Juli 2026 akan bergerak mendekati level 3 persen. Sedangkan Inflasi bulanan juga diproyeksikan lebih rendah dibandingkan Juni 2026.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....