Rupiah Dibuka Menguat jelang Akhir Pekan

  • 31 Jul 2026 11:05 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka di posisi Rp18.054 per dolar AS, naik 0,31 persen dibandingkan hari sebelumnya
  • Rupiah melemah setelah rilis data inflasi dari Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) dan data Produk Domestik Bruto (PDB) Amerika Serikat
  • Sepanjang bulan Juli nilai tukar rupiah melemah sebesar 1,2 persen

RRI.CO.ID, Jakarta - Nilai tukar rupiah menguat cukup signifikan terhadap dolar AS dalam pembukaan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka di posisi Rp18.054 per dolar AS, naik 0,31 persen dibandingkan hari sebelumnya.

Pada Kamis kemarin, rupiah tukar ditutup turun 0,21 persen ke posisi Rp18.111 per dolar AS. "Rupiah hari ini berpotensi menguat terhadap dolar AS yang melemah," kata Analis Pasar Uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, Jumat, 31 Juli 2026.

Rupiah melemah setelah rilis data inflasi dari Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) dan data Produk Domestik Bruto (PDB) Amerika Serikat. Data PDB AS kuartal II 2026 lebih lemah dari perkiraan, menjadi 1,5 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.

Sementara Indeks PCE pada Juni 2026 menjadi 3,3 persen secara tahunan. Indeksnya lebih rendah dibandingkan bulan Mei 2020 yang sebesar 3,4 persen.

Namun Lukman mengingatkan penguatan rupiah mungkin terbatas karena dipengaruhi eskalasi di Timur Tengah. Harga minyak mentah dunia yang kembali naik ikut mempengaruhi pergerakan nilai tukar.

"Rupiah diprakirakan akan bergerak di kisaran Rp18.000-Rp18.050 per dolar AS," ucap Lukman. Sementara itu, indeks dolar AS melemah ke level 99,86.

Sepanjang bulan Juli nilai tukar rupiah melemah sebesar 1,2 persen. "Sehingga rupiah menjadi mata uang dengan kinerja terburuk kedua di kawasan setelah Baht Thailand," kata Analis Pasar Uang dari Miras Asset Sekuritas, Jessica Tasijawa.

Pelemahan rupiah mengindikasikan bahwa premi risiko domestik masih lebih dominan dibandingkan sentimen positif dari pelemahan dolar AS."Pasar mencerna sikap 'hawkish' ( ketat) the Fed dan prospek suku bunga higher-for-longer di tengah ketidakpastian geopolitik yang berlanjut," ucap Jessica.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....