Rupiah Makin Anjlok, BI Tingkatkan Optimalisasi Bauran Kebijakan Moneter

  • 29 Jul 2026 08:47 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Bank Indonesia akan terus memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dengan meningkatkan optimalisasi kebijakan moneter.

RRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah sudah menembus lebih dari Rp18.000 per dolar AS sejak awal pekan ini. Meski begitu, Bank Indonesia (BI) terus berkomitmen menjaga stabilitas sebagai prasyarat utama mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Senior, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea. “Di tengah ketidakpastian global yang tinggi, stabilisasi nilai tukar rupiah terus diperkuat,” katanya, Rabu 29 Juli 2026.

Menurut Erwin, optimalisasi bauran kebijakan moneter dalam menjaga stabilitas nilai tukar akan terus ditingkatkan. Tidak hanya dengan mengandalkan suku bunga kebijakan tetapi juga dengan mempertajam instrumen moneter lainnya.

Misalnya triple intervention di pasar valas (Spot, NDF dan DNDF) serta Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). “Ini semua akan terus dioptimalkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mendukung masuknya aliran modal asing,” ujarnya.

Optimalisasi SRBI didukung fasilitas insentif swap berupa pengurangan premi swap jual lindung nilai investasi portofolio. Pengurangan preminya dinaikkan dari 10 persen menjadi 12,5 persen.

Insentif lainnya adalah DNDF hedging berupa pengurangan premi DNDF jual lindung nilai investasi portofolio. Pengurangan preminya ditetapkan sebesar 15 persen.

Menurut Erwin, posisi SRBI saat ini berada dalam tren yang lebih terkendali. Ke depan, penerbitannya terus diarahkan untuk menopang likuiditas dan aliran masuk modal asing guna memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah.

Erwin menambahkan BI juga terus mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Implementasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) akan diperkuat guna mendorong pembiayaan kepada sektor-sektor prioritas.

“Ini termasuk penguatan mekanisme redistribusi likuiditas di sektor keuangan agar transmisi pembiayaan menjadi semakin efektif,” ujarnya. BI juga akan terus mengakselerasi kebijakan digitalisasi sistem pembayaran untuk semakin mendorong pertumbuhan ekonomi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....