Perusahaan Butuh Refinancing, Penerbitan Surat Utang Semester II Tetap Tinggi
- 26 Jul 2026 23:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Sepanjang semester II 2026 penerbitan surat utang korporasi diprakirakan masih solid. Jumlahnya di kisaran Rp154-Rp196,86 triliun
- Dari sisi peluang yang utama adalah kebutuhan refinancing perusahaan- perusahaan masih cukup tinggi
- Tantangan bagi korporasi yang akan menerbitkan surat utang di semester II adalah risiko geopolitik
RRI.CO.ID, Jakarta - Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mengatakan, prospek penerbitan surat utang korporasi pada semester II 2026 masih tinggi. Hal itu dikarenakan perusahaan-perusahaan masih membutuhkan dana, utamanya untuk membayar surat utang yang jatuh tempo pada semester II.
"Sepanjang semester II 2026 penerbitan surat utang korporasi diprakirakan masih solid. Jumlahnya di kisaran Rp154-Rp196,86 triliun dengan titik tengah di Rp175,77 triliun," kata Kepala Divisi Riset Pefindo, Suhindarto dalam media briefing secara daring pekan ini.
Menurutnya, ada peluang dan tantangan yang akan dicermati emiten maupun investor dalam penerbitan surat utang korporasi di semester II. Dari sisi peluang, yang utama adalah kebutuhan refinancing yang masih cukup besar.
"Karena surat utang yang jatuh tempo nilainya juga cukup besar mencapai Rp107,51 triliun," ucap Suhindarto. Jumlah itu dua kali lipat dibandingkan semester I yang besarnya hanya Rp50 triliun.
Peluang lainnya adalah kondisi perekonomian domestik yang relatif stabil, seiring kebijakan fiskal pemerintah yang diarahkan untuk ekspansi. Defisit APBN yang melebar untuk tujuan ekspansi diharapkan dapat mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional.
"Sedangkan kebijakan moneter diarahkan untuk menstabilkan sistem keuangan. Hal ini akan memberikan iklim yang kondusif bagi penerbitan surat utang korporasi di semester II," ujar Suhindarto.
Di sisi lain, permintaan investor terhadap surat utang korporasi masih cukup kuat. Karena para investor mencari alternatif imbal hasil yang lebih menarik di tengah tertekannya pasar saham.
"Yield atau imbal hasil surat utang yang lebih tinggi lebih baik bagi investor. Daripada mereka masuk ke pasar saham yang masih tertekan dan cenderung volatile," kata Suhindarto menjelaskan.
Sementara itu, tantangan bagi korporasi yang akan menerbitkan surat utang di semester II adalah risiko geopolitik. Selain itu, trend pasar surat utang di Amerika Serikat juga 'hawkish' ( ketat).
Dua faktor tersebut menurut Suhindarto, dapat memicu volatilitas di pasar keuangan global termasuk di Indonesia. Selain itu dapat mendorong peningkatan 'yield benchmark' .
"Karena biar bagaimanapun pembentukan yield masih mengacu ke pasar keuangan utama dunia, yaitu AS," ucap Suhindarto. Dia menyebut imbal hasil surat utang ke depan masih akan tinggi seiring kebijakan moneter ketat dan tingginya suku bunga.
Tantangan lainnya adalah persaingan dengan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Keduanya menawarkan imbal hasil yang kompetitif dengan imbal hasil surat utang korporasi.
Sikap investor yang lebih selektif juga menjadi tantangan penerbitan surat utang korporasi di semester II. Investor lebih memilih surat surat utang korporasi dengan peringkat single A.
Sehingga penerbitan surat utang dengan rating di bawahnya akan terbatas. Di semester I, bahkan tidak penerbitan surat utang korporasi dengan peringkat triple B karena tingkat kuponnya juga kurang kompetitif.
Di tengah tantangan tersebut, tambah Suhindarto, mandat penerbitan surat utang korporasi ke Pefindo bisa menjadi katalis. Hingga akhir Juni 2026, Pefindo telah menerima mandat penerbitan surat utang sebesar Rp50 triliun.
"Ini menunjukkan trend penerbitan surat utang korporasi masih positif. Karena perusahaan-perusahaan menganggap penerbitan surat utang masih menarik untuk menggalang dana, untuk modal atau refinancing," kata Suhindarto menutup keterangannya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....