Analis Cermati Perubahan Arah Pasar Saham di Semester II 2026
- 26 Jul 2026 20:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Arah pasar saham pada semester II 2026 akan berubah, bukan lagi pada momentum rebound tapi pada kekuatan fundamental ekonomi dan kinerja emiten
- Pulihnya minat investor asing pada saham-saham perbankan menjadi sinyal positif bagi pasar saham Indonesia. Utamanya saham-saham perbankan yang berkapitalisasi besar
- Keputusan MSCI mempertahankan Indonesia dalam katagori emerging market, juga menjadi katalis di semester II
RRI.CO.ID, Jakarta - Pasar saham Indonesia masih menghadapi tantangan dari sisi eksternal pada semester II 2026 berupa kebijakan moneter global. Arah pasar saham akan berubah, bukan lagi pada momentum rebound tapi pada kekuatan fundamental ekonomi dan kinerja emiten.
"Arah pasar saham Indonesia pada semester II akan ditentukan oleh kondisi makroekonomi global dan valuasi saham. Termasuk terjaganya status Indonesia sebagai emerging market dalam indeks MSCI," kata Head of Research and Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto dalam Media Day yang berlangsung secara daring pekan ini.
Menurut Rully, pulihnya minat investor asing pada saham-saham perbankan menjadi sinyal positif bagi pasar saham Indonesia. Utamanya saham-saham perbankan yang berkapitalisasi besar.
Rully menyebut nilai tukar rupiah kemungkinan masih akan cenderung melemah di semester II karena pengaruh tekanan suku bunga tinggi. "The Fed kemungkinan akan menaikkan suku bunga dua kali pada September dan Desember, masing-masing sebesar 25 basis poin," ucap Rully.
Pertumbuhan ekonomi di semester II kemungkinan juga akan melambat. Sehingga Mirae Asset merevisi ke bawah proyeksi pertumbuhan tahun 2026 dan 2027 menjadi 4,8 persen dan 4,9 persen.
Sebelumnya, Mirae Asset Sekuritas memprakirakan pertumbuhan ekonomi tahun 2026 sebesar 5 persen. Sedangkan pertumbuhan ekonomi tahun 2027 sebesar 5,1 persen.
"Pertumbuhan ekonomi domestik melambat karena melemahnya permintaan domestik dan kebijakan moneter global yang masih ketat," ujar Rully. Sementara itu, tingkat inflasi Indonesia diprakirakan mencapai 4 persen di tahun 2026.
Meski demikian, Rully menilai peluang investasi masih terbuka ditopang oleh pemulihan pasar saham secara bertahap di semester II. Stabilitas nilai tukar rupiah dan musim laporan keuangan emiten pada kuartal II, juga menjadi katalis bagi masuknya investasi.
Sementara itu, keputusan MSCI mempertahankan Indonesia dalam katagori emerging market, juga menjadi katalis di semester II. "Ketidakpastian pasar berkurang, sambil menunggu masa pemantauan kembali oleh MSCI hingga bulan November mendatang," kata Research Analyst Mirae Asset Sekuritas, Wilbert Arifin.
Meski status Indonesia sebagai emerging market tetap terjaga, bobot Indonesia dalam indeks MSCI menurun. Akhir 2025, bobot Indonesia pada klasifikasi emerging market sebesar 1,2 persen, turun jadi 0,4 persen di bulan Juni.
Menurut Wilbert, jika bulan Juni kemarin status Indonesia turun ke frontier market, akan terjadi aliran keluar dana asing sekitar Rp80 triliun. Tapi karena status Indonesia masih di emerging market, risiko itu mereda.
Namun upaya untuk menarik masuk dana asing ke pasar saham Indonesia, masih menjadi tantangan. Dari data Bursa Efek Indonesia, hingga bulan Juli 2026 investor asing masih mencatatkan jual bersih saham sebesar Rp79,09 triliun.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....