Ketegangan di Timur Tengah Meningkat, Rupiah Dibuka Melemah

  • 20 Jul 2026 11:10 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Menurut Bloomberg, rupiah dibuka turun 0,36 persen atau 65 poin ke posisi Rp17.986 per dolar AS pasa Senin, 20 Juli 2026, dibandingkan penutupan akhir pekan sebelumnya.

RRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Senin 20 Juli 2026. Menurut Bloomberg, rupiah dibuka turun 0,36 persen atau 65 poin ke posisi Rp17.986 per dolar AS.

Pada akhir pekan lalu, rupiah sempat menguat 0,36 persen ke posisi Rp17.921 per dolar AS. Namun, analis pasar uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, memprediksi pelemahan nilai tukar rupiah akan berlanjut.

“Rupiah diprakirakan melemah terhadap dolar AS di tengah meningkatnya eskalasi di Timur Tengah,” ujarnya, Senin 20 Juli 2026. Menurut dia, eskalasi perang menyebabkan harga minyak dunia kembali melonjak dan memicu penguatan indeks dolar AS.

“Namun, perlemahan terhadap rupiah mungkin bisa terbatas oleh dukungan sentimen kuat domestik,” ucapnya. Menurut Lukman, ini karena aliran masuk modal asing di pasar ekuitas maupun Surat Berharga Negara (SBN).

“Sehingga nilai tukar rupiah diperkirakan akan bergerak pada kisaran Rp17.900-18.050 per dolar AS,” ujarnya. Sedangkan indeks dolar AS diprakirakan akan bergerak pada kisaran level 100,76 hingga 100,84.

Analis pasar uang dari Mirae Asset Sekuritas, Jessica Tasijawa, mencermati spread imbal hasil SBN dan Obligasi Pemerintah AS. Menurut dia, spread SBN masih lebih menarik sebesar 271 basis poin (bps) untuk tenor 10 tahun.

Sedangkan untuk tenor dua tahun, spread-nya tercatat sebesar 294 bps. “Imbal hasil SBN 10 tahun naik ke 7,26 persen, sedangkan imbal hasil tenor dua tahun turun ke 7,12 persen,” ujarnya.

Jessica menegaskan spread SBN masih menarik bagi investor asing, sehingga permintaan SBN masih tinggi. “Kondisi tersebut mendorong aliran masuk portofolio asing dan dapat mendorong apresiasi rupiah," ucapnya.

Namun, Jessica melihat risiko geopolitik serta suku bunga global yang tinggi menjadi faktor yang dapat menekan rupiah. “Hal ini akan mendorong Bank Indonesia mempertahankan kebijakan moneter prudent untuk menjaga stabilitas rupiah,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....