Pasar Respon Positif Penilaian S&P, Rupiah Ditutup Menguat

  • 14 Jul 2026 17:40 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Mengacu pada data Bloomberg, rupiah ditutup naik 0,10 persen atau 18 poin menjadi Rp18.091 per dolar AS
  • Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, rilis S&P terkait rating Indonesia memberikan sentimen positif ke pasar
  • Dari sisi eksternal, investor mengkhawatirkan dampak dari eskalasi konflik AS-Iran

RRI.CO.ID, Jakarta - Nilai tukar rupiah berhasil menguat terhadap dolar AS dalam penutupan perdagangan hari ini, Selasa, 14 Juli 2026. Mengacu pada data Bloomberg, rupiah ditutup naik 0,10 persen atau 18 poin menjadi Rp18.091 per dolar AS.

Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, rilis S&P terkait rating Indonesia memberikan sentimen positif ke pasar. "Pasar merespon positif setelah S&P Global Ratings memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai 5 persen setiap tahunnya," kata Ibrahim dalam analisisnya, Selasa, 14 Juli 2026.

Pertumbuhan 5 persen tersebut, menurut proyeksi S&P sampai dengan tiga tahun ke depan. Lembaga pemeringkat ini juga mempertahankan peringkat kredit Indonesia dalam kategori layak investasi BBB dengan prospek tetap stabil.

"Menurut S&P, peringkat kredit Indonesia bertahan di level BBB karena prospek pertumbuhan ekonomi yang kuat. Hal ini tercermin dari kebijakan ekonomi makro dan beban utang eksternal maupun pemerintah yang relatif lebih ringan," ujar Ibrahim.

S&P membandingkan beban utang Indonesia dengan negara-negara berperingkat sesama BBB. Terkait pertumbuhan ekonomi, S&P memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh akan tumbuh 5,1 persen tahun ini.

Sementara itu, dari sisi eksternal, Ibrahim mencermati kekhwatiran investor terhadap eskalasi konflik AS-Iran. Presiden Trump kembali memblokade Iran dan mengatakan akan memungut biaya 20 persen pada kapal kargo yang lewat Selat Hormuz.

"Sementara itu, Teheran memperingatkan bahwa aksi militer AS yang berkelanjutan dapat memicu serangan balasan yang lebih keras. Serangan balasan Iran akan mempengaruhi infrastruktur energi di kawasan," ucap Ibrahim.

Militer AS bahkan akan mulai memberlakukan blokade mulai Selasa, 14 Juli 2026 dengan menargetkan lalu lintas kapal yang terkait dengan Iran. Namun akan mengizinkan pengiriman logistik komersial yang dianggap netral untuk melewati Selat tersebut.

Ketegangan yang meningkat di Timur Tengah membuat harga minyak mentah naik lagi, sehingga pasar saham dan pasar uang kembali tertekan. Para investor melakukan penilaian kembali akan potensi dampak kenaikan biaya energi terhadap pertumbuhan global dan kebijakan bank sentral.

Gubernur the Fed, Christopher Waller, kata Ibrahim, sudah mengisyaratkan kenaikan suku bunga jika Indeks Harga Konsumen naik minggu ini. "Meski bersikap 'hawkish' (ketat), Waller masih melihat kemungkinan inflasi mencapai target 2 persen," ucapnya.

Kemungkinan itu, menurut Waller, bisa tanpa disertai kenaikan suku bunga. Karena pasar tenaga kerja lebih dekat dengan target lapangan kerja maksimum the Fed.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....