IHSG Diprakirakan Berbalik Menguat di Akhir Pekan Ini
- 12 Jun 2026 08:22 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan berbalik menguat dalam perdagangan hari ini
- IHSG hari ini berpotensi short term teknikal 'rebound' ke 5.900-5.950," kata Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman
- Perkembangan konflik di Timur Tengah, masih akan mempengaruhi sentimen pasar. Di dalam negeri, pelaku pasar mencermati efisiensi program MBG
RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan berbalik menguat dalam perdagangan hari ini. Setelah pada Kamis kemarin turun 0,28 persen ke level 5.886.
Aliran keluar modal asing masih terjadi dengan net sell (jual bersih) sebesar Rp252,65 miliar. Saham yang paling banyak dijual asing adalah BBRI, DSSA, ASII, AMMN dan CUAN.
"IHSG hari ini berpotensi short term teknikal 'rebound' ke 5.900-5.950," kata Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, Jumat, 12 Juni 2026. Di level support IHSG akan bergerak di rentang 5.780-5.840 dan level resistansi di rentang 5.900-6.000.
Perkembangan konflik di Timur Tengah, menurut Fanny, masih akan mempengaruhi sentimen pasar. Bursa saham Amerika Serikat naik tajam pada Kamis kemarin, setelah Presiden Trump menyatakan membatalkan serangan ke Iran.
"Sehingga harga minyak terkoreksi karena meredanya kekhawatiran gangguan pasokan energi dari Timur Tengah," ucap Fanny. Sementara itu bursa saham di kawasan Asia-Pasifik ditutup melemah karena masih khawatir akan serangan baru AS ke Iran.
Pasar khawatir eskalasi serangan akan memicu kenaikan harga minyak dan memicu inflasi tinggi. Inflasi tinggi akan mendorong bank sentral AS mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama.
Di dalam negeri, pelaku pasar mencermati data penjualan ritel yang turun menjadi 3,7 persen secara tahunan di bulan April 2026.
Tim Analis Phintraco Sekuritas mengatakan, ini merupakan penurunan yang pertama sejak April 2025. "Penurunan disebabkan melemahnya daya beli masyarakat akibat kenaikan harga bahan bakar non subsidi," ujar Tim Phintraco.
Secara bulanan penjualan ritel turun menjadi 11,6 persen di bulan April 2026. Penurunan ini merupakan yang terbesar sejak Juni 2022.
Pelaku pasar juga mencermati langkah pemerintah melakukan efisiensi anggaran program MBG. Anggaran yang semula sebesar Rp335 triliun diefisienkan menjadi Rp268 triliun.
Hingga Mei 2026, realisasi anggaran program MBG mencapai Rp88,15 triliun. Terjadi kenaikan 17,53 persen dari Rp75 triliun di bulan April 2026.
Besarnya anggaran untuk program MBG menjadi sorotan. "Jika efisiensi anggaran MBG dapat ditekan secara signifikan, maka diharapkan berpotensi akan mengurangi defisit APBN," kata Tim Phintraco menutup analisisnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....