Tak Ada Katalis Positif, IHSG Diprakirakan Masih akan Melemah

  • 09 Jun 2026 08:13 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) diprakirakan masih lesu hari ini
  • "Sehingga potensi penurunan IHSG lebih lanjut masih berpeluang terbuka secara teknikal. Selanjutnya IHSG berpotensi menguji level support di 5.100," kata Tim Analis Phintraco Sekuritas
  • Cadangan devisa Indonesia pada akhir Mei 2026, kembali turun menjadi USD144,9 miliar dari USD146,2 miliar di bulan April

RRI.CO.ID, Jakarta - Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) diprakirakan masih lesu hari ini. Karena belum ada katalis yang dapat mendorong sentimen positif pasar, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri.

Pada Senin kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok hingga 4,5 persen ke level 5.342 . Semua sektor usaha mengalami penurunan, yang terbesar penurunan di sektor industri sebesar -6,39 persen.

Pelemahan IHSG disertai aliran keluar modal asing sebesar Rp587 miliar. Nilai tukar rupiah juga amblas ke level Rp18.188 per dolar AS.

"Sehingga potensi penurunan IHSG lebih lanjut masih berpeluang terbuka secara teknikal. Selanjutnya IHSG berpotensi menguji level support di 5.100," kata Tim Analis Phintraco Sekuritas, Selasa, 9 Juni 2026.

Pasar nampaknya merespons negatif data cadangan devisa Indonesia yang dirilis Bank Indonesia. Cadangan devisa Indonesia pada akhir Mei 2026, kembali turun menjadi USD144,9 miliar dari USD146,2 miliar di bulan April.

"Ini merupakan level terendah sejak Juni 2024. Penurunan ini terutama disebabkan oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan upaya Bank Indonesia untuk menstabilkan rupiah," ujar Tim Phintraco.

Meski menurun, cadangan devisa masih di atas standar internasional sebesar 3 bulan impor. "Tapi penurunan cadangan devisa yang terus menerus dapat menurunkan kepercayaan investor dan lembaga rating," ucap Tim Phintraco.

Untuk itu, menurutnya, Pemerintah perlu meningkatkan kepercayaan investor pasar keuangan. Selain mendorong ekspor, mengurangi impor, serta menarik investasi asing.

Sementara itu, data penjualan sepeda motor turun 5,1 persen secara tahunan menjadi 479,388 unit pada Mei 2026. Sebelumnya di bulan April, penjualan motor meningkat 28,1 persen.

Penurunan penjualan motor, menurut Tim Phintraco, akibat meningkatnya biaya yang membebani pengeluaran konsumen. Sehingga ada indikasi daya beli masyarakat mulai melemah.

Sementara itu, bursa saham global ditutup beragam pada perdagangan Senin kemarin. Bursa saham Wall Street di AS, mayoritas naik didorong 'rebound' saham-saham semikonduktor setelah mengalami aksi jual.

"Meskipun pasar saham menguat, perhatian investor masih tertuju pada perkembangan konflik di Timur Tengah. Ketegangan kembali meningkat setelah Iran melancarkan serangan rudal balasan ke Israel pada Minggu," kata Head of Retail Research BNI Sekuritas Fanny Suherman.

Kondisi memunculkan kekhawatiran mengenai keberlangsungan gencatan senjata yang sedang diupayakan. Namun, Presiden Trump menyatakan, proses negosiasi menuju perdamaian tetap berlangsung meskipun kedua pihak masih saling melancarkan serangan.

Di kawasan Asia- Pasifik, bursa saham kompak anjlok pada perdagangan Senin kemarin. "Pelemahan tersebut dipicu laporan peluncuran salvo rudal dari Iran ke wilayah Israel sebagai balasan atas serangan Israel ke Iran," ucap Fanny.

Menurutnya, sentimen geopolitik semakin memperberat posisi pasar. "Di kawasan regional, bursa Korea Selatan memimpin kejatuhan dengan indeks Kospi melemah tajam hingga 8,3 persen," kata Fanny menutup analisisnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....