IHSG Terus Melemah, BEI Tekankan Pentingnya Keputusan Investasi yang Rasional
- 05 Jun 2026 07:22 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Bursa Efek Indonesia (BEI) mengingatkan investor untuk tetap rasional dalam berinvestasi. Di sisi lain, BEI memastikan fundamental pasar dalam kondisi yang baik
- Pejabat Sementara Dirut BEI, Jeffrey Hendrik mengatakan fundamental pasar modal Indonesia pada saat ini dalam kondisi yang baik. Hal itu menurutnya tercermin dari laporan keuangan seluruh emiten per akhir tahun 2025
- BEI juga menegaskan informasi yang beredar di pasar seolah Indonesia dimasukkan dalam katagori frontier market oleh MSCI, adalah informasi yang tidak benar
RRI.CO.ID, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) mengingatkan investor tetap rasional berinvestasi di tengah kondisi Indeks Harga Saham Gabugan (IHSG) yang masih menurun. Meski demikian fundamental pasar dipastikan dalam kondisi yang baik.
"Kami tentu tidak bosan-bosannya mengingatkan kepada investor untuk mengambil keputusan investasi secara rasional danmemperhatikan fundamental. Serta berinvestasi sesuai dengan profil risiko masing-masing investor," kata Pejabat Sementara Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik dalam pernyataannya di Gedung BEI, Kamis, 4 Juni 2026.
Jeffrey mengungkapkan, hampir sepekan ini IHSG terus terkoreksi melemah. Bahkan, sempat mencapai level terendahnya, turun hampir 5 persen pada, Rabu, 3 Juni 2026.
Menurut Jeffrey , fundamental pasar modal Indonesia pada saat ini dalam kondisi yang baik. Hal itu menurutnya tercermin dari laporan keuangan seluruh emiten per akhir tahun 2025.
"Dari seluruh perusahaan tercatat itu membukukan pertumbuhan laba lebih dari 21 persen," ucapnya. Pertumbuhan laba bersih juga terlihat pada kuartal pertama tahun 2026, dibandingkan kuartal pertama di tahun 2025.
"Khususnya untuk saham-saham dalam kelompok LQ45, terjadi pertumbuhan laba bersih hampir 30 persen, atau 29,9 persen," ujar Jeffrey. Distribusi laba bersih per kuartal pertama tahun 2026, dari seluruh perusahaan tercatat yang ada, 80 persen membukukan laba bersih.
Capaian itu, tambah Jeffrey, merupakan persentase tertinggi dalam 5 tahun terakhir. Jeffrey juga mengatakan, pada tahun 2020, hanya ada 63 persen perusahaan tercatat membukukan labah bersih.
Tapi dari 2021-2025 persentasenya meningkat menjadi 73-76 persen perusahaan yang membukukan keuntungan. "Capaian kuartal pertama tahun 2026, 80 persen membukukan labah bersih," katanya.
Ini menunjukkan bahwa fundamental perusahaan-perusahaan tercatat di BEI dalam kondisi baik," kata Jeffrey menegaskan. Faktor fundamental ini, lanjutnya, dapat menjadi landasan untuk mengambil keputusan para investor.
Di sisi lain, BEI juga menerapkan kebijakan untuk menjaga perdagangan dan pergerakan pasar tetap sehat. "Kebijakan buyback tanpa RUPS, sampai saat ini masih berlaku," katanya.
Dalam pernyataannya, Jeffrey juga meluruskan informasi yang beredar di pasar. Informasi yang menyebutkan seolah-olah ada pengumuman MSCI bahwa Indonesia ditempatkan di frontier market.
"Informasi itu salah," kata Jeffrey tegas. Karenanya ia menghimbau investor untuk cek dan cross-check atas informasi yang beredar di pasar sebelum mengambil keputusan.
"Kami tentu sangat berharap investor bisa mengambil keputusan berdasarkan informasi yang akurat," kata Jeffrey. Terkait MSCI, Jeffrey menekankan bahwa BEI sudah melakukan langkah konkrit agar Indonesia tetap berada di katagori 'emerging market'.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....