Pelemahan Berlanjut, Rupiah Ditutup di Level Rp18.049 per Dolar AS

  • 04 Jun 2026 17:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Nilai tukar rupiah masih melemah terhadap dolar AS hingga penutupan perdagangan hari ini. Mengacu pada data Bloomberg, rupiah ditutup turun 0,46 persen atau 82 poin menjadi Rp18.049 per dolar AS
  • Rupiah masih tertekan dolar AS karena pelaku pasar masih bersikap hati-hati. Mereka masih mencermati perkembangan di Timur Tengah yang masih bergejolak dan situasi politik di Amerika Serikat
  • Dari aspek ekonomi, data pekerjaan berdasarkan Automatic Data Processing (ADP) menunjukkan penambahan 122 ribu pekerjaan di perusahaan swasta. Data bulan Mei itu melampaui ekspektasi ekonomi dan meningkat dibandingkan bulan sebelumnya

RRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah masih melemah terhadap dolar AS hingga penutupan perdagangan hari ini. Mengacu pada data Bloomberg, rupiah ditutup turun 0,46 persen atau 82 poin menjadi Rp18.049 per dolar AS.

Menurut Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, rupiah masih tertekan dolar AS karena pelaku pasar masih bersikap hati-hati. Mereka masih mencermati perkembangan di Timur Tengah yang masih bergejolak dan situasi politik di Amerika Serikat.

"Iran melakukan serangan ke basis-basis militer AS di Kuwait dan Bahrain. Sementara zionis Israel tetap melakukan serangan ke Lebanon Selatan di tengah kesepakatan gencatan senjata," kata Ibrahim, Kamis, 4 Juni 2026.

Sementara itu, DPR AS menyetujui resolusi untuk menghentikan perang Trump terhadap Iran. Namun resolusi itu membeutuhkan persetujuan Senat untuk mengantisipasi veto yang pasti dilakukan Trump.

Dari aspek ekonomi, data pekerjaan berdasarkan Automatic Data Processing (ADP) menunjukkan penambahan 122 ribu pekerjaan di perusahaan swasta. Data bulan Mei itu melampaui ekspektasi ekonomi dan meningkat dibandingkan bulan sebelumnya.

Di sisi lain, bisnis jasa di AS berdasarkan data Insitute for Supply Managemen (ISM) mengalami peningkatan. Pada Mei 2026, PMI Jasa ISM menjadi 54,5 dari 53,6 pada bulan sebelumnya.

“Kenaikan PMI Jasa, didorong oleh biaya yang meningkat untuk produk minyak bumi dan komoditas lainnya. Data-data tersebut memperkuat ekspektasi bahwa the Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi untuk jangka waktu lebih lama,” ujar Ibrahim.

Di dalam negeri, Ibrahim melihat kekhawatiran yang meningkat terhadap kenaikan harga minyak. Karena kenaikan harga minyak dapat memicu risiko berupa defisit fiskal myang melampaui ambang batas 3 persen.

Penilaian dari sejumlah lembaga rating internasional juga ikut mempengaruhi. Moody’s Ratings misalnya, memberikan peringkat Baa2 dengan outlook negatif pada PT Danantara Investment Management (DIM).

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....