IHSG Ditutup Menguat 1,11 Persen pada Perdagangan Hari Ini
- 02 Jun 2026 17:22 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- IHSG diperkirakan bergerak stagnan di kisaran 6.000 hingga 6.300.
- Investor mencermati implementasi kebijakan ekspor satu pintu melalui PT DSI.
- Pasar menunggu rilis data inflasi, neraca perdagangan, dan PMI manufaktur.
RRI.CO.ID, Jakarta — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada perdagangan Selasa, 2 Juni 2026. Pada akhir sesi II, IHSG berada di level 6.195,42 atau bergerak 68,04 poin (1,11 persen).
Sejak awal perdagangan, IHSG bergerak di zona hijau setelah dibuka pada level 6.210. Indeks sempat menyentuh level tertinggi di angka 6264,26.
Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak fluktuatif dengan kecenderungan stagnan. Sebanyak 281 saham menguat, 389 saham melemah, dan 147 saham stagnan.
Nilai transaksi tercatat mencapai Rp25,39 triliun. Sementara volume perdagangan mencapai 31,15 miliar lembar saham dengan frekuensi 2,5 juta kali transaksi.
Sebelumnya, IHSG sempat menguat hingga level 6,230 seiring efektifnya rebalancing indeks MSCI per Mei 2026. “Kini IHSG berpotensi bergerak sideways (stagnan) di kisaran 6.000-6300,” kata Tim Analis Phintraco Sekuritas, Selasa 2 Juni 2026.
Menurut Tim Phintraco, pelaku pasar masih mencermati implementasi kebijakan ekspor satu pintu yang mulai berlaku sejak 1 Juni 2026. Kebijakan tersebut mencakup ekspor batu bara, kelapa sawit, dan ferro alloy melalui PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI).
“Ini merupakan periode transisi di mana eksportir wajib melaporkan kegiatan ekspornya melalui PT DSI. Investor mencermati transparansi pelaksanaan kebijakan ini serta dampaknya terhadap kinerja emiten-emiten yang terkait,” ujar Tim Phintraco.
Selain itu, perhatian investor juga tertuju pada kebijakan penempatan devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA). Pemerintah menyiapkan sejumlah insentif pajak bagi eksportir yang menempatkan dana hasil ekspornya di dalam negeri.
"Eksportir akan diuntungkan dari pemangkasan biaya pajak tawaran suku bunga kompetitif yang dapat dijadikan agunan kredit. Sedangkan pihak bank akan memperoleh dana valas murah dan peningkatan likuiditas," ucap Tim Phintraco.
Pasar juga menunggu rilis sejumlah data ekonomi domestik dari Badan Pusat Statistik (BPS). Data tersebut meliputi inflasi, neraca perdagangan, dan aktivitas manufaktur yang dinilai dapat memengaruhi sentimen investor.
Tim Phintraco menilai berbagai kebijakan dan data ekonomi tersebut akan menjadi faktor utama pergerakan pasar dalam jangka pendek. Investor diperkirakan akan mencermati dampaknya terhadap prospek kinerja emiten dan stabilitas ekonomi nasional.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....