Perlambatan Ekonomi Global Picu Defisit Neraca Pembayaran di Triwulan I 2026
- 28 Mei 2026 22:45 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan I 2026 mengalami defisit sebesar USD9,1 miliar
- Defisit inilah yang menyebabkan cadangan devisa Indonesia pada Maret 2026 menurun menjadi USD148,2 miliar
- BI menyebut dinamika perekonomian global masih akan mempengaruhi prospek NPI di tahun ini
RRI.CO.ID, Jakarta - Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan I 2026 mengalami defisit sebesar USD9,1 miliar. Laporan Bank Indonesia menyebut, defisit tersebut dipengaruhi oleh perlambatan ekonomi global.
Defisit inilah yang menyebabkan cadangan devisa Indonesia pada Maret 2026 menurun menjadi USD148,2 miliar. Namun posisi cadangan devisa juga masih di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Berdasarkan laporan Bank Indonesia yang dirilis pekan ini (22 Mei 2026), defisit NPI disebabkan oleh defisit komponen transaksi berjalan. Begitu pula komponen transaksi modal serta finansial yang mengalami defisit akibat melambatnya perekonomian global.
Pada triwulan I 2026, transaksi berjalan mencatat defisit USD4 miliar atau 1,1 persen. dari Produk Domestik Bruto (PDB). Defisitnya menurun dibandingkan pada triwulan IV 2025 sebesar USD2,5 miliar atau 0,7 persen dari PDB.
Sementara itu, neraca perdagangan nonmigas tetap membukukan surplus meski surplusnya menurun dibandingkan triwulan sebelumnya. Sedangkan neraca perdagangan migas mengalami defisit, tapi defisitnya lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya.
Di sisi lain, neraca pendapatan primer mengalami defisit yang meningkat dipengaruhi oleh kenaikan pembayaran kupon/bunga. Sementara itu kinerja neraca jasa membaik sejalan dengan penurunan impor jasa freight.
Dari sisi transaksi modal dan finansial, pada triwulan I 2026 mencatat defisit USD4,9 miliar. Pada triwulan sebelumnya transaksi modal dan finansial mencatat surplus USD9 miliar.
Dari transaksi modal dan finansial, komponen investasi langsung mencatatkan surplus. Menurut BI, ini mencerminkan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian dan iklim investasi domestik
Komponen investasi portofolio juga membukukan surplus, meskipun lebih rendah dibandingkan triwulan IV 2025. Tetapi komponen investasi lainnya mencatat defisit akibat pembayaran pinjaman luar negeri yang jatuh tempo, serta penempatan kas dan simpanan.
BI menyebut dinamika perekonomian global akan mempengaruhi prospek NPI selanjutnya. Karenanya BI akan memperkuat respons bauran kebijakan dengan pemerintah otoritas terkait.
BI meyakini kinerja NPI sepanjang tahun 2026 tetap baik dengan defisit transaksi berjalan yang rendah. BI memprakirakan kisaran defisitnya sebesar 1,3 persen sampai dengan 0,5 persen dari PDB.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....