Rupiah Anjlok ke Posisi Rp17.791 per Dolar AS jelang Libur Panjang

  • 26 Mei 2026 10:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) anjlok makin dalam pada awal perdagangan Selasa 26 Mei 2026 ke posisi Rp17.791 per dolar AS.

RRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) anjlok makin dalam pada awal perdagangan Selasa 26 Mei 2026. Menurut Bloomberg, hingga pukul 10.00 WIB rupiah turun 0,27 persen ke level Rp17.791 per dolar AS.

Sehari sebelumnya, rupiah ditutup turun 0,15 persen menjadi Rp17.744 per dolar AS. “Rupiah diperkirakan akan berkonsolidasi terhadap dolar AS,” kata analis pasar uang Doo Financial Fixtures, Lukman Leong.

Menurut dia, investor masih bersikap wait and see dalam mengamati respons Iran terhadap proposal perdamaian yang diajukan AS. Ada harapan kesepakatan damai akan tercapai meski terdapat isu-isu krusial pada kesepakatan damai tersebut.

“Rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.700-Rp17.800 per dolar AS," ucap Lukman. Sementara untuk indeks dolar AS, lanjut dia, masih berada di level 99.

Analis pasar uang Mirae Asset Sekuritas, Jessica Tasijawa, juga mengungkapkan penyebab masih melemahnya nilai tukar rupiah. Menurut dia, tekanan domestik masih lebih dominan karena faktor musiman permintaan valas.

“Sementara itu, ada kekhawatiran terjadinya pelebaran ketidakseimbangan eksternal dan berlanjutnya arus repatriasi dividen,” ucapnya. Meski begitu, Jessica mengatakan pasar obligasi domestik mulai menunjukkan stabilisasi.

Imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun turun ke posisi 6,69 persen. Namun, spread Indonesia Government Bond (INDOGB) dan Obligasi Pemerintah AS (US Treasury) tetap tinggi.

Untuk tenor 10 tahun berada di level 212,7 basis poin dan tenor dua tahun di level 253,3 basis poin. "Ini memperkuat pandangan bahwa Bank Indonesia kemungkinan akan mempertahankan suku bunga di level 5,25 persen hingga akhir 2026,” ujarnya.

Menurut Jessica, kebijakan itu akan menjaga daya tarik imbal hasil dan mendukung aliran modal masuk. “Kami masih cenderung favor terhadap tenor jangka pendek di tengah spread yang tetap atraktif,” ucapnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....