Awal Pekan, IHSG Diperkirakan Masih Akan Terus Tertekan

  • 18 Mei 2026 08:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) diprakirakan akan melanjutkan penurunan pada awal perdagangan pekan ini, Senin 18 Mei 2026.
  • IHSG kemungkinan akan "breakdown" pada level 6.700 dan berpotensi menguji level 6.500-6.550.

RRI.CO.ID, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) diprakirakan melanjutkan pelemahannya pada awal perdagangan pekan ini. Pada Rabu, 13 Mei 2026, IHSG ditutup turun 1,98 persen atau 135,5 poin ke level 6.723.

“IHSG kemungkinan akan breakdown pada level 6.700 dan berpotensi menguji level 6.500-6.550,” kata Tim Analis Phintraco Sekuritas. IHSG turun terseret pelemahan nilai tukar rupiah sepanjang libur panjang akhir pekan lalu.

“Dari sisi domestik, investor mencermati Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pekan ini,” ujar Tim Phintraco. Pelaku pasar memprakirakan BI akan mempertahankan suku bunga tetap di posisi 4,75 persen.

Pasar juga menantikan data-data pertumbuhan kredit dan perkembangan transaksi berjalan triwulan I 2026. Keduanya juga akan dirilis oleh BI pada pekan ini.

Sementara itu, penyedia indeks global FTSE Russell menyatakan telah meninjau perkembangan pasar modal Indonesia. “Namun mereka masih menunda pemeringkatan ulang indeks secara penuh,” ucap Tim Phintraco.

Pergerakan IHSG juga akan dipengaruhi oleh pergerakan bursa saham global yang melemah pada akhir pekan kemarin. Indeks saham di Wall Street, Amerika Serikat (AS), ditutup melemah karena aksi ambil untung para investor.

“Investor melakukan aksi profit taking pada saham-saham sektor teknologi,” ucap Tim Phintraco. Mereka juga melihat imbal hasil obligasi pemerintah AS yang mengalami kenaikan.

Sentimen pasar dipengaruhi pertemuan Presiden AS, Donald Trump, dan Presiden Tiongkok, Xi Jinping. Pertemuan kedua pemimpin tersebut berakhir tanpa adanya kesepakatan besar, sehingga membuat investor kecewa.

Yield US Treasury tenor 30 tahun tercatat mengalami kenaikan hingga 5,1 persen. Ini terjadi di tengah kekhawatiran akan inflasi dan kenaikan suku bunga akibat melonjaknya harga minyak mentah.

Kenaikan harga minyak mentah di atas 3 persen disebabkan belum tercapainya kesepakatan damai antara AS-Iran Menurut Tim Phintraco, konflik tersebut masih akan berpengaruh terhadap pergerakan indeks di bursa global pada pekan ini.

Pelaku pasar saat ini sedang menantikan hasil rapat The Fed untuk mencari indikasi arah suku bunga. Apalagi setelah AS merilis tingkat inflasinya yang lebih tinggi dari perkiraan.

Di kawasan Asia, pasar mencermati data ekonomi Tiongkok seperti produksi industri dan penjualan ritel. Bank sentral Tiongkok diperkirakan tetap mempertahankan suku bunga pinjaman utama satu dan lima tahun masing-masing 3 persen dan 3,5 persen.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....