Konflik Timur Tengah Makin Panas, Rupiah Sentuh Level Rp17.600 per Dolar AS

  • 15 Mei 2026 12:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Nilai tukar rupiah mengalami pelemahan yang signifikan selama dua hari libur dan cuti bersama. Hari ini, berdasarkan data Bloomberg, pada pukul 12.00 WIB, rupiah berada di level Rp17.601 per dolar AS
  • Dari sisi eksternal tensi geopolitik di Selat Hormuz menjadi pemicu utama melemahnya nilai tukar rupiah
  • Meski demikian, masih ada harapan positif, berupa fundamental ekonomi Indonesia yang kuat

RRI.CO.ID, Jakarta - Nilai tukar rupiah mengalami pelemahan yang signifikan selama dua hari libur dan cuti bersama. Hari ini, pada pukul 12.00 WIB, berdasarkan data Bloomberg rupiah berada di level Rp17.601 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah melemah 0,41 persen terhadap dolar AS. Sedangkan indeks dolar AS bergerak menguat di level 99.

"Saat libur dua hari ini Bank Indonesia (BI) hanya bisa melakukan intervensi di pasar internasional. Intervensi pasar internasional itu tidak terlalu signifikan membantu penguatan rupiah karena tekanan eksternal yang lebih besar," kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi dalam analisisnya, Jumat, 15 Mei 2026.

Dari sisi eksternal, Ibrahim menyebut tensi geopolitik di Selat Hormuz menjadi pemicu utama melemahnya nilai tukar rupiah. Sedangkan kunjungan Presiden AS ke Tiongkok dan pertemuannya dengan Presiden Xi Jinping, tidak membawa sentimen positif ke pelaku pasar.

Keterlibatan negara-negara Arab seperti Uni Emirat Arab dan Arab Saudi juga semakin memperkeruh konflik di Timur Tengah. Dua negara itu disebut-sebut melakukan pertemuan rahasia dengan pemimpin zionis Israel untuk melawan Iran.

Meski spekulasi itu dibantah oleh Saudi dan UAE, namun sejumlah laporan intelijen memperkuat kecurigaan tersebut. Sementara itu, dalam pertemuan dengan Trump, Xi Jinping mengingatkan AS untuk tidak ikut campur dalam persoalan Tiongkok dengan Taiwan.

Di AS, harga bensin yang melambung telah mendorong kenaikan inflasi. "Dengan meningkatnya inflasi, ada kemungkinan bank sentral AS akan menurunkan suku bunga tahun ini," ujar Ibrahim.

Kalau bank sentral AS masih mempertahankan suku bunga, tambah Ibrahim, indeks dolar AS akan semakin menguat. Imbasnya, tekanan terhadap nilai tukar rupiah akan semakin besar.

Di dalam negeri, Ibrahim kembali menyoroti dampak kenaikan harga minyak dunia terhadap keuangan negara. "Karena impor minyak sebanyak 1,5 juta barel, 85 persennya untuk BBM bersubsidi," ujarnya.

Melihat perkembangan global, Ibrahim memprakirakan rupiah bisa tembus ke level Rp.18.000 per dolar AS di bulan Mei ini. Ia memperkirakan BI akan mengambil kebijakan suku bunga di bulan Juni.

"Bank Indonesia kemungkinan akan menaikkan suku bunga di bulan Juni 2026. Kenaikannya bisa sebesar 25 hingga 50 basis poin (bps), untuk menstabilkan mata uang rupiah," ucap Ibrahim.

Meski demikian, Ibrahim melihat masih ada harapan positif, berupa fundamental ekonomi Indonesia yang kuat. "Fundamental ekonomi Indonesia masih cukup bagus karena 90 persen obligasi dibeli investor domestik," kata Ibrahim menutup analisisnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....