IHSG Ditutup Melemah ke Level 6.858, Tekanan Global dan Rupiah Bayangi Pasar
- 12 Mei 2026 16:09 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- IHSG ditutup turun 46,720 poin atau 0,68 persen ke level 6.858,89 pada perdagangan Selasa, 12 Mei 2026.
- Pelemahan dipicu sentimen eksternal, mulai dari konflik Timur Tengah hingga penguatan dolar AS akibat kebijakan The Fed.
- Pasar juga dibayangi antisipasi rebalancing MSCI Indonesia yang menjadi perhatian investor global.
RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Selasa, 12 Mei 2026. IHSG turun 0,68 persen atau 46,720 poin ke level 6.858,89.
Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak di zona merah setelah sempat dibuka di level 6.946,84. Indeks juga sempat menyentuh level tertinggi di 6.977,28.
Sementara itu, level terendah IHSG berada di posisi 6.762,87. Pelemahan indeks terjadi di tengah tekanan sentimen global dan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi ekonomi dunia.
Aktivitas perdagangan tercatat cukup ramai dengan volume transaksi mencapai 32,523 miliar saham. Nilai transaksi harian tercatat sebesar Rp15,827 triliun dengan frekuensi perdagangan sebanyak 2.515.228 kali.
Sebanyak 207 saham menguat, 463 saham melemah, dan 151 saham stagnan. Kondisi tersebut mencerminkan dominasi tekanan jual di pasar saham domestik.
Tim Pilarmas Investindo Sekuritas menilai pelemahan IHSG dipengaruhi faktor eksternal, terutama meningkatnya tensi konflik di Timur Tengah yang turut menekan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
“Dalam negeri, indeks IHSG melemah. Sentimen tekanan jual seiring dari faktor ekternal dari sisi konflik di Timur Tengah mendorong tekanan nilai rupiah yang semakin melemah dari dolar AS,” kata mereka, Selasa 12 Mei 2026.
Menurut Pilarmas, penguatan dolar AS juga dipicu kebijakan suku bunga The Fed serta ketidakpastian ekonomi global. Situasi tersebut mendorong lonjakan permintaan dolar AS sebagai aset safe haven di tengah meningkatnya risiko global.
Fenomena ini memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Dominasi penguatan dolar AS di pasar global membuat peluang apresiasi mata uang emerging market semakin terbatas.
“Ini memberikan tekanan besar bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Karena penguatan dolar yang dominan di pasar global,” ujar Tim Pilarmas.
Selain itu, pelaku pasar juga cenderung bersikap hati-hati menjelang pengumuman rebalancing MSCI Indonesia. Pengumuman tersebut dinilai penting karena menjadi salah satu acuan investor global dalam menilai pasar modal Indonesia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....