Rupiah Ditutup Makin Loyo di Rp17.423 per Dolar AS

  • 05 Mei 2026 18:55 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup turun 0,17 persen atau 30 poin menjadi Rp17.423 per dolar AS
  • Para analis berpendapat, ‘Project Freedom’ Trump dapat membantu hambatan logistik, tapi tidak dapat membantuk menyelesaikan konfliknya
  • Data pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dirilis Badan Pusat Statistik hari ini. Pada triwulan I 2026, pertumbuhan ekonomi mencapai 5,61 persen

RRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah belum bangkit dari keterpurukannya, bahkan makin melemah hingga penutupan perdagangan hari ini, Selasa 5 Mei 2026. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup turun 0,17 persen atau 30 poin menjadi Rp17.423 per dolar AS.

“Sentimen pasar masih masih rapuh karena AS dan Iran saling melancarkan serangan baru di kawasan Teluk. Kedua belah pihak saling mengklaim kendali atas Selat Hormuz,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Selasa, 5 Mei 2026.

Pelaku pasar berharap pada “Project Freedom” Presiden Trump yang disebut-sebut untuk membantu kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz. Para analis berpendapat, ‘proyek’ tersebut dapat membantu hambatan logistik, tapi tidak dapat membantu menyelesaikan konfliknya.

“Sehingga pasar minyak dunia tetap sensitif atas perkembangan di Timur Tengah,” ucap Ibrahim. Di sisi lain, guncangan energi menambah tekanan pada bank sentral, khususnya bank sental AS, the Fed.

The Fed, menurut Ibrahim, harus mempertahankan suku bunga atau mempeketat kebijakannya jika inflasi meningkat. “Hal ini mendorong kenaikan imbal hasil obligasi AS, dan dampaknya menekan harga logam mulia,” ucapnya.

Di dalam negeri, Ibrahim mencermati data pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dirilis Badan Pusat Statistik hari ini. Pada triwulan I 2026, pertumbuhan ekonomi mencapai 5,61 persen.

Pertumbuhannya lebih tinggi dibandingkan triwulan I 2025 yang tercatat sebesar 4,8 persen. “Konsumsi masyarakat masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi” ujar Ibrahim.

Konsumsi masyarakat yang tumbuh 5,52 persen ditopang oleh hari libur dan hari besar keagamaan, yaitu Nyepi dan Idul Fitri. Kebijakan pemerintah dalam pengendalian inflasi dan pemberian THR atau gaji ke-13 juga mendorong konsumsi,

Jumlah perjalanan wisatawan nusantara yang tumbuh 13,14 persen secara tahunan, ikut mendorong konsumsi masyarakat. Termasuk peningkatan jumlah penumpang di berbagai moda, yakni angkutan darat, laut, maupun udara.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....