Akhir Pekan, Rupiah Makin Melemah ke Posisi Rp17.104 per Dolar AS

  • 10 Apr 2026 20:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Nilai tukar rupiah masih melemah terhadap dolar AS hingga penutupan perdagangan di akhir pekan ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup turun 0,08 persen atau 14 poin menjadi Rp17.104 per dolar AS
  • Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup turun 0,08 persen atau 14 poin menjadi Rp17.104 per dolar AS
  • Nilai tukar rupiah melemah seiring dengan fokus pasar pada kelanjutan gencatan senjata AS-Iran dan penantian pasar terhadap data inflasi Amerika Serikat

RRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah masih melemah terhadap dolar AS hingga penutupan perdagangan di akhir pekan ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup turun 0,08 persen atau 14 poin menjadi Rp17.104 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah melemah seiring dengan fokus pasar pada kelanjutan gencatan senjata AS-Iran. Sementara itu, zionis Israel menyatakan ingin melakukan diplomasi setelah melakukan serangan brutalnya ke Lebanon.

“Lalu lintas kapal melalui selat Hormuz masih di bawah 10 persen dari volume normal. Karena Teheran masih memegang kendali atas Selat tersebut, karena Israel masih menyerang Lebanon usai kesepakatan gencatan senjata,”kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi dalam analisisnya, Jumat, 10 April 2026.

Iran juga ingin mengenakan biaya bagi kapal yang melewati selat tersebut berdasarkan kesepakatan perdamaian. Namun para pemimpin Barat dan badan pelayaran PBB, tambah Ibrahim, menolak gagasan tersebut.

Pasar kini menunggu apakah kesepakatan gencatan senjata AS-Iran akan berlanjut dengan negosiasi perdamaian. Mengingat karakter AS dan Israel yang sering melanggar kesepakatan.

Sementara itu, laporan JP Morgan menyebutkan sekitar 50 aset infrastruktur di Teluk rusak akibat serangan drone dan rudal Iran. Selama hampir enam minggu sejak konflik dimulai, sebanyak 2,4 juta barel per hari kapasitas penyulingan minyak telah dinonaktifkan.

“Pasar menunggu data inflasi konsumen AS yang dapat memberikan petunjuk lebih lanjut tentang arah kebijakan the Fed. Ekonom memperkirakan inflasi dari Indeks Harga Konsumen (CPI) akan meningkat karena lonjakan harga energi di tengah konflik Timur Tengah,” ujar Ibrahim.

Di dalam negeri, pelaku pasar juga mencermati hasil Survei Konsumen Bank Indonesia (BI). Survei menunjukkan persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini masih kuat, meski levelnya sedikit menurun di bulan Maret 2026.

Berdasarkan survei BI, Indkes Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) di level 115,4, lebih rendah dari 115,9 di bulan Februari. Sementara itu, Asian Develompment Bank (ADB) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 menjadi 5,2 persen dari 5,1 persen tahun 2025.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....