Penutupan Perdagangan, Rupiah Makin Melemah akibat Tekanan Eksternal

  • 09 Apr 2026 16:47 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Nilai tukar rupiah masih tertekan oleh dolar AS hingga penutupan perdagangan hari ini karena tekanan eskternal
  • Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 0,46 persen atau 78 poin menjadi Rp17.090 per dolar AS
  • Iran Kembali Tutup Selat Hormuz karena Zionis Israel melakukan serangan ke Lebanon
  • Bank Dunia revisi ke bawah pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026

RRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah masih tertekan oleh dolar AS hingga penutupan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 0,46 persen atau 78 poin menjadi Rp17.090 per dolar AS.

Gangguan di Selat Hormuz yang masih berlanjut memberikan sentimen negatif pada pasar keuangan. Iran kembali menutup Selat Hormuz karena zionis Israel masih melakukan serangn brutal ke Lebanon.

“Ketegangan geopolitik kembali meningkat dan jalur pasokan minyak global tetap terblokir, meski ada gencatan senjata AS-Iran,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi dalam analisisnya, Kamis, 9 April 2026. Iran sudah menegaskan, serangan zionis Israel ke Lebanon melanggar ketentuan gencatan senjata yang baru diumumkan.

Sementara itu, dari aspek ekonomi, risalah pertemuan bank sentral AS bulan Maret mengindikasikan penuruanan suku bunga tahun ini. Para pejabat the Fed menyatakan bahwa mereka perlu tetap ‘gesit’ dengan mempertimbangkan dampak perang.

“Terutama dampak perang terhadap inflas, serta perekrutan tenaga kerja yang stagnan selama hampir setahun terakhir,” ucap Ibrahim. Sementara itu, di dalam negeri pelaku pasar mencermati rilis terbaru Bank Dunia yang merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia

Bank Dunia menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 hanya sebesar 4,7 persen. Proyeksinya lebih rendah dari sebelumnya yang sebesar 4,8 persen.

“Meski direvisi turun, Bank Dunia menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia masih tangguh. Perkiraan sebesar 4,7 persen masih lebih tinggi dibandingkan proyeksi pertumbuhan kawasan Asia Timur dan Pasifik yang hanya 4,2 persen,” ujar Ibrahim.

Prospek ekonomi di kawasan dipengaruhi tiga faktor eksternal, yakni konflik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga energi. Penyebab lainnya adalah pembatasan perdagangan di Amerika Serikat, ketidakpastian kebijakan global, dan perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan (AI).

Sebelumnya, OECD juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026. Pertumbuhan diperkirakan berada di level 4,8 persen dari sebelumnya 5 persen.

“Revisi ini muncul di tengah tekanan global yang meningkat, terutama akibat lonjakan harga energi dan ketegangan geopolitik,” kata Ibrahim. Meski demikian, pemerintah Indonesia tetap optimis perekonomian tahun ini masih dapat tumbuh di kisaran 5,4-5,7 persen.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....