Rupiah Tembus 17.000, Bank Indonesia Optimalkan Operasi Moneter

  • 07 Apr 2026 21:35 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Bank Indonesia (BI) menyatakan, menjaga stabilitas nilai tukar rupiah tetap menjadi prioritas utama, khususnya di tengah ketidakpastian global yang sangat tinggi
  • BI akan mengoptimalkan pemanfaatan seluruh instrumen operasi moneter (OM) untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah
  • DNDF adalah Domestic Non-Deliverable Forward, bentuk intervensi BI ke pasar dalam negeri. Sedangkan NDF atau Non-Deliverable Forward adalah bentuk intervensi BI di pasar luar negeri

RRI.CO.ID, Jakarta – Bank Indonesia (BI) menyatakan, menjaga stabilitas nilai tukar rupiah tetap menjadi prioritas utama. Khususnya di tengah ketidakpastian global yang sangat tinggi seperti saat ini.

“Untuk itu, BI akan mengoptimalkan pemanfaatan seluruh instrumen operasi moneter (OM) yang dimiliki. Serta menerapkan kebijakan operasi moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar,” kata Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti sdalam pernyataan tertulisnya, Selasa , 7 April 2026.

Destry menyampaikan hal tersebut, melihat perkembangan nilai tukar rupiah hari ini. Nilai tukar rupiah ditutup turun signifikan 0,41 persen atau 70 poin sehingga menembus level Rp17.105 per dolar AS.

“Untuk menstabilkan rupiah, BI secara konsisten dan terukur akan selalu berada di pasar uang. Baik di spot market, DNDF maupun NDF di offshore market,” ucap Destry.

DNDF adalah Domestic Non-Deliverable Forward, bentuk intervensi BI ke pasar dalam negeri. Sedangkan NDF atau Non-Deliverable Forward adalah bentuk intervensi BI di pasar luar negeri.

Lebih lanjut Destry mengatakan, dampak konflik Timur Tengah bersifat dua arah. Dampaknya pada kenaikan harga komoditas dapat memberikan efek positif bagi perekonomian domestik dari posisi Indonesia sebagai eksportir.

“Sehingga dapat mengimbangi tekanan terhadap nilai tukar akibat eskalasi konflik tersebut,” ujar Destry. Nilai tukar rupiah terus melemah karena sentimen pasar melihat perkembangan konflik antara AS dan Iran.

Di sisi lain, pelaku pasar menunggu data inflasi di AS yang akan menentukan kebijakan suku bunga the Fed. Sedangkan di dalam negeri, ada kekhawatiran akan melebarnya defisit APBN.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....