OJK Catat Penyaluran Kredit Bank Tumbuh 9,37 Persen pada Februari

  • 06 Apr 2026 12:41 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penyaluran kredit perbankan terus menunjukkan pertumbuhan positif pada Februari 2026.
  • Secara tahunan, kredit tumbuh sebesar 9,37 persen dengan total mencapai Rp8.559 triliun.

RRI.CO.ID, Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penyaluran kredit perbankan terus menunjukkan pertumbuhan positif pada Februari 2026. Secara tahunan, kredit tumbuh sebesar 9,37 persen dengan total mencapai Rp8.559 triliun.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengatakan capaian ini menunjukkan kinerja intermediasi perbankan masih terjaga dengan baik. “Pada Februari 2026, kredit tumbuh sebesar 9,37 persen (yoy),” ujarnya dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Maret 2026 secara daring, Senin, 6 April 2026.

Berdasarkan jenis penggunaannya, kredit investasi mencatatkan pertumbuhan paling tinggi dibandingkan jenis lainnya. Dian menyebut angkanya mencapai 20,72 persen secara tahunan, menunjukkan meningkatnya aktivitas investasi.

Sementara itu, dari sisi kategori debitur, kredit korporasi menjadi penyumbang pertumbuhan terbesar. Pertumbuhan kredit korporasi tercatat sebesar 14,74 persen secara tahunan.

Dari sisi kepemilikan bank, ia menyebut kredit yang disalurkan oleh bank BUMN mengalami pertumbuhan paling tinggi. Menurutnya, angka pertumbuhannya mencapai 12,78 persen secara tahunan.

Di sisi lain, OJK mencatat stabilitas sektor jasa keuangan nasional hingga Maret 2026 tetap terjaga. Kondisi ini berlangsung di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyampaikan tensi geopolitik di Timur Tengah turut meningkatkan risiko global. Dampaknya terlihat dari kenaikan harga energi dan volatilitas pasar keuangan dunia.

Ia menyebut hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan pada 1 April 2026 menilai sektor keuangan nasional masih stabil. “Rapat Dewan Komisioner Bulanan Otoritas Jasa Keuangan dilangsungkan pada 1 April 2026, menilai stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga,” ujarnya.

Menurutnya, sebelum konflik terjadi, ekonomi global sempat menunjukkan penguatan. Namun, kondisi tersebut terkoreksi akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.

“Tingginya ketidakpastian global dan tekanan harga energi juga mempersempit ruang kebijakan moneter bagi bank sentral global. Sekaligus kembali memunculkan ekspektasi high for longer,” ucapnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....