OJK: Stabilitas Jasa Keuangan Nasional Tetap Terjaga di tengah Ketidakpastian

  • 06 Apr 2026 12:23 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat stabilitas sektor jasa keuangan nasional hingga Maret 2026 tetap terjaga. Kondisi ini berlangsung di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

RRI.CO.ID, Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan stabilitas sektor jasa keuangan nasional hingga Maret 2026 tetap terjaga. Kondisi tersebut berlangsung di tengah meningkatnya ketidakpastian global hingga saat ini.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengatakan tensi geopolitik di Timur Tengah turut meningkatkan risiko global. Hal ini terlihat dari kenaikan harga energi dan volatilitas pasar keuangan dunia.

Menurut Kiki, panggilan akrabnya, hasil Rapat Dewan Komisioner per April 2026 menyebutkan sektor keuangan nasional masih stabil. “Ekonomi global sempat menunjukkan penguatan, tetapi kini terkoreksi akibat eskalasi konflik di Timur Tengah,” ujarnya, Senin 6 April 2026..

Tingginya ketidakpastian global dan tekanan harga energi juga mempersempit ruang kebijakan moneter bagi bank sentral global. “Ini sekaligus kembali memunculkan ekspektasi high for longer,” ucapnya.

Ekonomi Amerika Serikat (AS), misalnya, mulai menghadapi tekanan di tengah tingginya inflasi dan angka pengangguran. Bank sentral AS, The Fed, masih mempertahankan suku bunga acuan meski pasar semula memprediksi sebaliknya.

“Konflik AS dan Iran membuat ekspektasi pasar bergeser kepada skenario tidak adanya pemangkasan suku bunga pada 2026,” kata Kiki. Sedangkan ekonomi Tiongkok mencatat kinerja di atas ekspektasi, didorong oleh peningkatan permintaan, penawaran, serta dukungan stimulus sektor keuangan.

Meski begitu, Tiongkok tetap menurunkan target pertumbuhan ekonominya. Ini merupakan respons terhadap tantangan struktural dan ketidakpastian global.

Di dalam negeri, menurut Kiki, inflasi inti pada Maret 2026 mengalami penurunan. Aktivitas konsumsi juga tetap kuat, terlihat dari pertumbuhan penjualan ritel yang diperkirakan mencapai 6,89 persen secara tahunan.

Beberapa indikator ekonomi Indonesia juga menunjukkan perbaikan. Cadangan devisa berada pada level memadai dan neraca perdagangan masih mencatatkan surplus.

Namun, OJK mengingatkan konflik antara Iran dan AS serta Israel berpotensi menimbulkan risiko lanjutan. “Risiko tersebut dapat memengaruhi sektor keuangan melalui pasar, harga energi, dan jalur perdagangan,” ujarnya.

Di sisi lain, OJK mencatat kredit perbankan terus tumbuh pada Februari 2026. Yaitu mencapai 9,37 persen secara tahunan dengan total penyaluran kredit sebesar Rp8.559 triliun.

“Tren pertumbuhan kredit masih terjaga,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae. Berdasarkan penggunaannya, kredit investasi mencatat pertumbuhan paling tinggi mencapa 20,72 persen secara tahunan.

Dilihat dari kategori debitur, pertumbuhan tertinggi berasal dari kredit korporasi. Nilainya tercatat sebesar 14,74 persen secara tahunan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....