IHSG Berbalik Melemah Bersama Mayoritas Bursa Asia

  • 31 Mar 2026 22:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • IHSG terpantau turun 0,61 persen atau 43 poin ke level 7.048, sebanyak ebanyak 406 saham harganya turun, 262 saham harganya naik dan 151 saham stagnan
  • Sepanjang hari ini Indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan bergerak melemah, saham–saham yang mendominasi penurunan diantaranya MEDC, BUMI, EMTK, BREN, JPFA
  • Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi

RRI.CO.ID, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak fluktuatif sepanjang hari ini. IHSG mulai turun ke zona merah jelang akhir sesi perdagangan pertama hingga penutupan perdagangan.

IHSG terpantau turun 0,61 persen atau 43 poin ke level 7.048. Sebanyak 406 saham harganya turun, 262 saham harganya naik dan 151 saham stagnan.

Saham sektor barang primer naik paling kuat 1,48 persen. Sedangkan saham yang turun paling dalam sebesar -4,60 adalah saham sektor transportasi dan logistik.

“Sepanjang hari ini Indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan bergerak melemah. Saham–saham yang mendominasi penurunan diantaranya MEDC, BUMI, EMTK, BREN, JPFA,” kata Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Selasa, 31 Maret 2026.

Volume saham yang diperdagangkan hari ini sebanyak 27,26 miliar lembar saham, dengan frekuensi perdagangan 1,74 juta kali transaksi. Total nilai perdagangan sebesar Rp14,97 triliun dan kapitalisasi pasar menjadi Rp12.447,83 triliun.

Selain IHSG, bursa saham di kawasan Asia juga didominasi pelemahan dalam penutupan perdagangan hari ini. “Sentimen pasar tetap rapuh seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang terus membebani pasar global,” kata Tim Pilarmas.

Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, kehati-hatian kembali mendominasi setelah pernytaan Presiden AS Donald Trump.

“Trump mengisyaratkan kemungkinan penghentian operasi AS terhadap Iran meskipun Selat Hormuz belum dibuka kembali,” ujar Tim Pilarmas. Di Eropa, lonjakan harga minyak mendorong inflasi di seluruh wilayah, sehingga pasar merevisi ekspektasi terhadap kebijakan Bank Sentral Eropa (ECB).

“Kami kini memperkirakan setidaknya dua kali kenaikan suku bunga pada 2026. Meninggalkan proyeksi sebelumnya yang memperkirakan peluang 40 persen untuk penurunan suku bunga,” kata Tim Pilarmas menutup analisisnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....