Penutupan Perdagangan, Rupiah Akhirnya Tembus Rp17.002 per Dolar AS

  • 30 Mar 2026 18:27 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Nilai tukar rupiah akhirnya tembus Rp17.002 per dolar AS dalam penutupan perdagangan hari ini
  • Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pasar tetap waspada terhadap potensi eskalasi perang AS-Iran
  • Di dalam negeri, rencana pemerintah melakukan efisiensi anggaran perlu didukung oleh kombinasi kebijakan lain agar efektif dalam menjaga defisit APBN

RRI.CO.ID, Jakarta - Nilai tukar rupiah akhirnya tembus Rp17.002 per dolar AS dalam penutupan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 0,13 persen atau 22 poin.

Rupiah tidak mampu membendung penguatan dolar AS karena sentimen pasar terhadap perkembangan perang AS-Iran. "Pasar tetap waspada terhadap potensi eskalasi perang Iran setelah kelompok Houthi di Yaman ikut menyerang Israel," kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, enin, 30 Maret 2026.

Kelompok Houthi dapat membuka front baru dalam perang, karena memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan di Laut Merah. Di sisi lain, Iran mengatakan pihaknya siap menghadapi invasi darat oleh AS.

Dari sisi ekonomi, hasil riset Universitas Michigan mengungkapkan bahwa rumah tangga Amerika mulai pesimis tentang kondisi ekonomi. Sentimen Konsumen pada bulan Maret 2026 turun dari 55,5 menjadi 53,3, di bawah perkiraan 54.

"Ekspektasi inflasi untuk dua belas bulan ke depan melonjak menjadi 3,8 persen bulan Maret. Inflasi bulan Maret naik tajam dibandingkan bulan Februari hanya sebesar 3,4 persen," ujar Ibrahim.

Pasar juga memperkirakan the Fed akan menaikkan suku bunga, karena kenaikan harga minyak yang sangat tinggi.

CME FedWatch Tool menyebut pasar memperkirakan tidak akan ada penurunan suku bunga tahun ini. Di sisi lain, pelaku pasar bertaruh ada peluang 50 persen suku bunga anaik di akhir tahun 2026.

Di dalam negeri, Ibrahim mencermati rencana pemerintah melakukan efisiensi anggaran. Menurutnya, langkah itu perlu didukung oleh kombinasi kebijakan lain agar efektif dalam menjaga defisit APBN.

"Tekanan fiskal yang terjadi saat ini bersifat struktural, yang berasal dari subsidi energi. Serta dari kenaikan biaya bunga utang, dan kebutuhan belanja prioritas," ucap Ibrahim.

"Dengan kata lain, ruang efisiensi anggaran pemerintah masih memadai, namun terbatas dan harus diterapkan secara selektif. Ruang efisiensi realistis hanya berasal dari belanja non-prioritas, mengingat struktur belanja yang makin ketat," ujar Ibrahim.

Terutama belanja untuk subsidi energi, belanja pegawai, dan bunga utang. Pelaksanaan efisiensi anggaran, tambah Ibrahim, juga harus memenuhi syarat kualitas belanja, agar tidak hanya sekadar penghematan.

Lebih lanjut Ibrahim mengatakan, ada Indikator utama untuk menilai efektivitas pemangkasan anggaran. Penilaian mencakup peningkatan dampak program terhadap anggaran dan perbaikan Incremental Capital Output Ratio (ICOR).

Pemangkasan anggaran yang efektif juga dapat terlihat pada pergeseran ke belanja produktif. "Serta stabilnya indikator makro seperti pertumbuhan di atas 5 persen dan inflasi yang terkendali," kata Ibrahim menutup analisisnya.

.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....