Likuiditas Lebaran 2026 Tembus Rp 1.370 Triliun, Daya Beli Masyarakat Menguat

  • 27 Mar 2026 20:56 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Uang kartal jelang Lebaran 2026 mencapai Rp 1.370 triliun, naik 10,4 persen atau Rp 130 triliun dibandingkan 2025
  • Dana siap belanja masyarakat meningkat menjadi Rp 1.241 triliun, mencerminkan penguatan konsumsi dan likuiditas daerah
  • Lonjakan likuiditas selaras dengan kenaikan arus mudik di semua moda transportasi, mendorong pertumbuhan ekonomi nasional

RRI.CO.ID, Jakarta - Momentum Lebaran 2026 menjadi periode penting bagi perekonomian Indonesia dengan lonjakan signifikan jumlah uang tunai beredar. Laporan terbaru NEXT Indonesia Center menunjukkan peningkatan likuiditas yang mencerminkan daya beli masyarakat serta kesiapan konsumsi rumah tangga nasional.

Temuan riset tersebut menyoroti adanya kenaikan peredaran uang kartal menjelang periode Lebaran tahun ini dibandingkan tahun sebelumnya. Data yang digunakan dalam riset tersebut merujuk pada informasi resmi dari Bank Indonesia terkait distribusi uang tunai nasional.

"Dari hasil riset yang kami lakukan berdasarkan data Bank Indonesia, jumlah uang kartal atau uang tunai dalam bentuk kertas maupun logam yang diedarkan untuk kebutuhan jelang Lebaran 2026 mencapai Rp 1.370 triliun. Angka tersebut lebih tinggi 10,4 persen atau naik Rp 130 triliun dibandingkan menjelang Lebaran 2025 yang hanya Rp 1.240 triliun," ujar Kepala Peneliti NEXT Indonesia Center, Ade Holis, dalam keterangan tertulis, Kamis, 26 Maret 2026.

Ade menjelaskan bahwa jumlah uang tunai yang beredar selama Lebaran tahun ini mencatatkan capaian tertinggi dalam enam tahun terakhir. Ia juga menilai kondisi tersebut sebagai indikator kuat bahwa aktivitas ekonomi domestik sedang berada dalam kondisi optimal.

Kenaikan jumlah uang kartal menjelang Lebaran dinilai mencerminkan ketahanan ekonomi nasional yang tetap terjaga dengan baik. Selain itu, kondisi tersebut menjadi bukti nyata adanya penguatan aktivitas ekonomi hingga tingkat masyarakat akar rumput.

Data lain menunjukkan jumlah uang yang berada langsung di masyarakat di luar kas perbankan mengalami peningkatan cukup signifikan. Menjelang Lebaran 2026, dana siap belanja tercatat mencapai Rp 1.241 triliun atau naik Rp 104 triliun dibandingkan tahun sebelumnya.

"Hal ini tentunya menjadi modalitas ekonomi daerah yang sangat kuat. Tambahan uang tunai sebesar Rp 104 triliun yang dipegang masyarakat merupakan likuiditas segar yang siap memutar roda ekonomi di berbagai daerah tujuan pemudik," katanya.

Peningkatan likuiditas tersebut berjalan seiring dengan tingginya mobilitas masyarakat yang terlihat dalam data arus mudik nasional. Kementerian Perhubungan mencatat adanya kenaikan volume penumpang pada seluruh moda transportasi selama periode H-8 hingga Hari H Idul Fitri 2026.

Moda transportasi laut melalui layanan kapal ASDP menjadi sektor dengan peningkatan jumlah pemudik paling besar tahun ini. Jumlah penumpang tercatat naik dari 2,33 juta orang pada 2025 menjadi 2,69 juta orang pada 2026.

Sementara itu, moda transportasi darat seperti bus juga menunjukkan tren peningkatan jumlah penumpang yang cukup signifikan. Total penumpang bus meningkat dari 1,44 juta orang pada 2025 menjadi 1,59 juta orang pada 2026.

Transportasi kereta api turut mencatat kenaikan jumlah penumpang selama periode mudik Lebaran tahun ini. Jumlah pengguna kereta mencapai 1,83 juta orang pada 2026, naik dari 1,63 juta penumpang tahun sebelumnya.

Sektor penerbangan juga mengalami peningkatan jumlah penumpang menjelang Idul Fitri tahun ini secara keseluruhan. Total penumpang pesawat tercatat mencapai 2,4 juta orang, meningkat dibandingkan 2,32 juta orang pada tahun sebelumnya.

"Sinkronisasi antara likuiditas dan mobilitas ini adalah kunci pertumbuhan ekonomi nasional. Masyarakat memiliki daya beli dan mereka memiliki akses mobilitas untuk membelanjakannya di kampung halaman, yang secara otomatis menghidupkan ekosistem ekonomi lokal," ucapnya

NEXT Indonesia Center memproyeksikan kombinasi antara tingginya dana siap belanja dan arus mudik akan berdampak signifikan. Kondisi tersebut diperkirakan berkontribusi terhadap pembentukan Produk Domestik Bruto nasional pada kuartal pertama tahun ini.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....