Rupiah Dibuka Menguat Ditopang Sentimen Pasar dan Meredanya Gejolak Harga Minyak
- 10 Mar 2026 12:05 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Selasa 10 Maret 2026. Sehari sebelumnya, rupiah sempat terpuruk menyentuh level Rp17.000 dan ditutup pada posisi Rp16.949 per dolar AS.
Menurut data Bloomberg pada pukul 11.00 WIB, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp16.894 per dolar AS. Ini berarti menguat 0,32 persen dibandingkan dengan nilai pada penutupan Senin 9 Maret 2026.
Penguatan nilai tukar rupiah sudah sesuai dengan perkiraan para analis. "Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS yang terkoreksi di tengah membaiknya sentimen pasar," kata analis pasar uang, Lukman Leong.
| Baca juga: Rupiah Terpuruk ke Level Rp16.925/Dolar AS |
Menurut dia, dolar AS terkoreksi seiring meredanya harga minyak dunia. Pelaku pasar juga berharap perang dapat segera berakhir menyusul pernyataan Presiden AS, Donald Trump, bahwa perang sudah hampir selesai.
"Trump juga mengatakan sedang mempertimbangkan untuk mengambil alih pengamanan Selat Hormuz," ucap Lukman. Presiden AS itu berdalih ingin menjaga kelancaran jalur pasokan energi global melalui pengambilalihan Selat Hormuz.
Trump juga mengiming-iming akan melonggarkan sanksi minyak untuk Rusia. "Melihat perkembangan itu, rupiah kemungkinan akan bergerak di kisaran Rp16.800-Rp16.950 per dolar AS," ujarnya.
Sementara itu, harga minyak kembali turun setelah sebelumnya hampir menyentuh USD120 per barrel. "Harga minyak Brent maupun WTI kembali diperdagangkan di bawah USD90 per barrel," kata Kepala Ekonom Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto.
Menurut dia, harga minyak dunia kembali turun setelah Trump mengisyaratkan jalur Selat Hormuz bisa berangsur normal dalam beberapa pekan. Bukan berbulan-bulan seperti yang diperkirakan sebelumnya.
"Namun, hal ini masih belum bisa dipastikan karena hanya merupakan sinyal niat politik dan upaya menenangkan pasar,” ujar Rully. Menuurut dia, ini bukanlah jaminan operasional seccara penuh.
Rully menambahkan berdasarkan rekam jejak, sinyal Trump tidak bisa dijadikan sebagai satu-satunya sumber yang dapat dipercaya. Penentu utama dari kelancaran jalur Selat Hormuz adalah kondisi di lapangan, serta respons Iran dan pelaku industri pelayaran.
"Pasar saat ini lebih digerakkan oleh berita geopolitik yang tiap saat cepat berubah,” katanya. Bukan oleh fundamental suplai dan permintaan.