Rupiah Terpuruk ke Level Rp16.925/Dolar AS
- 06 Mar 2026 23:43 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Nilai tukar rupiah belum menunjukkan tanda-tanda akan menguat hingga penutupan perdagangan akhir pekan ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah turun makin dalam 0,12 persen atau 20 poin menjadi Rp16.925 per dolar AS.
Tekanan dolar AS terhadap rupiah masih kuat seiring meningkatnya kewaspadaan pasar keuangan global terhadap ketegangan di Timur Tengah. Sepekan perang AS-Israel versus Iran belum menunjukkan akan mereda sehingga menimbulkan kekhawatiran akan pasokan energi.
"Presiden AS Donald Trump mengatakan ia ingin berperan dalam menentukan pemimpin Iran berikutnya setelah perang berakhir. Pernyataan itu malah memicu ketidakpastian yang meningkat mengenai masa depan politik kawasan tersebut," kata Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi, Jumat, 6 Maret 2026.
Sementara itu, lonjakan harga minyak mentah telah memicu kekhawatiran akan gelombang inflasi global yang baru. Situasi itu akan mempersulit prospek bagi bank sentral global, termasuk Bank Sentral AS The Fed.
"Harga minyak yang lebih tinggi cenderung memicu inflasi dan dapat membuat para pembuat kebijakan lebih berhati-hati, khususnya dalam memangkas suku bunga dalam waktu dekat," ucap Ibrahim.
Di sisi lain, pelaku pasar juga akan mencermati laporan data pekerjaan non-pertanian AS bulan Februari. Data ini akan menjadi sinyal tentang kekuatan pasar tenaga kerja dan arah kebijakan moneter.
| Baca juga: Rupiah Sudah Tembus Rp16.905 per Dolar AS |
Dari dalam negeri, pemerintah berupaya mengerek tax ratio alias rasio pajak. Upaya itu dilakukan setelah Indonesia mendapatkan sorotan dari lembaga pemeringkat internasional Fitch.
Fitch menurunkan prospek (outlook) Indonesia dari stabil menjadi negatif. Sementara itu, tax ratio Indonesia selalu berada di kisaran 9 persen hingga 10 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB)
Fitch memproyeksikan rasio pendapatan Indonesia terhadap PDB hanya mencapai rata-rata 13,3 persen terhadap PDB tahun 2026-2027. Persentasenya jauh tertinggal dari median negara setara di kategori 'BBB' yang berada di level 25,5 persen.