Ini Langkah BI Jaga Rupiah di tengah Kecamuk Perang

  • 03 Mar 2026 07:13 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya berada di pasar unuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. BI menyampaikan hal tersebut menyusul ketegangan yang terjadi di Timur Tengah akibat serangan Amerika Serikat-Israel ke Iran.

"Sejalan dengan eskalasi konflik di Timur Tengah, BI akan akan terus mencermati pergerakan pasar secara seksama. BI akan merespons secara tepat, termasuk memastikan nilai tukar rupiah bergerak sesuai dengan fundamentalnya," kata Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas (DPMA) BI, Erwin Gunawan Hutapea dalam keterangan tertulisnya, Senin, 2 Maret 2026.

Menurut Erwin, meluasnya ketegangan di Timur Tengah menyebabkan sentimen risk off di pasar keuangan global. Pelaku pasar cenderung menghindari risiko karena ketidakpastian yang tinggi.

"BI akan tetap hadir di pasar melalui intervensi baik transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri. Maupun melalui transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik," ucap Erwin.

BI, lanjutnya, juga akan terus mengoptimalkan kebijakan untuk meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan suku bunga. Selain untuk menjaga stabilitas, juga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Sementara itu, nilai tukar rupiah merosot terhadap dolar AS dalam perdagangan awal pekan kemarin. Rupiah ditutup pada posisi Rp16.868 per dolar AS atau turun 0,48 persen atau 81 poin.

Pasar mencermati imbas dari meningkatnya ketegangan AS-Iran, berupa potensi kenaikan harga minyak mentah. Selain itu penutupan Selat Hormuz akan mengganggu kelancaran logistik.

Harga energi yang diperkirakan akan meroket dan gangguan pasokan akan terasa perekonomian dalam negeri. Termasuk ke mata uang rupiah yang akan mengalami tekanan.

Sejumlah analis menyebut, penutupan selat Hormuz bisa memicu harga minyak dunia ke level USD100 per barel. Kenaikan harga minyak sudah mulai terjadi pada Senin kemarin.

Harga minyak Brent tercatat USD78 per barel , naik 7,6 persen dari harga sebelumnya. Sedangkan harga minyak West Texas Intermediate tercatat USD72 per barel, naik 7,4 persen.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....