Rupiah Menguat Signifikan Saat Pasar Cermati Tarif Trump

  • 26 Feb 2026 12:06 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar AS dalam pembukaan perdagangan hari ini. Dari pantauan di Bloomberg, rupiah dibuka naik 0,21 persen atau 35 poin ke posisi Rp16.764 per dolar AS.

Pada Rabu kemarin, rupiah ditutup naik 0,17 persen menjadi Rp16.800 per dolar AS. "Nilai tukar rupiah hari ini kemungkinan bergerak tipis dengan kecenderungan apresiasi ke Rp16.800 per dolar AS," kata Analis Pasar Uang dari Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana, Kamis, 26 Februari 2026.

Menurutnya, faktor eksternal dan internal akan mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah hari ini. Dari eksternal, pelaku pasar masih akan memantau perkembangan soal tarif Trump setelah tarif resiprokal dibatalkan Mahkamah Agung AS.

Presiden Trump selanjutnya mengenakan tarif 10 persen secara global dan sudah berlaku selama lima bulan ke depan. Tapi Trump juga mengatakan akan menaikkan tarif menjadi 15 persen.

Saat ini Presiden Trump juga sedang berupaya mengenakan tarif lebih tinggi menggunakan Trade Expansion Act 1962 section 232. Berdasarkan aturan itu, Presiden AS bisa menetapkan bea masuk atas dasar kemanan nasional.

Sedangkan dari internal, berlanjutnya net buy (beli bersih) saham oleh asing di pasar saham domestik, menopang penguatan rupiah. "Selain itu, kekhawatiran pasar terkait MSCI dan penurunan outlook Moody's juga mendorong berlanjutnya penguatan rupiah," ucap Fikri.

Selain beli bersih di pasar saham, lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) memicu sentimen positif pada rupiah. "Lelang SRBI BI menyerap dana mencapai Rp10 triliun dengan permintaan condong ke tenor lebih panjang," kata Ekonom Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto.

Kondisi itu, tambah Rully, di tengah imbal hasil yang masih tinggi. "Ini menegaskan peran SRBI sebagai instrumen utama untuk mengamankan aliran modal dan menstabilkan nilai tukar," ujarnya.

Sementara itu, imbal hasil Surat Urang Negara (SUN) 10 tahun turun ke 6,44 persen. Sedangkan imbal hasil obligasi AS (US Treasury) 10 tahun naik ke 4,05 persen.

"Sehingga mempersempit spread Indonesia Government Bond (INDOGB)-UST menjadi 239 basis poin. Hal ini mengindikasikan, intervensi BI dan imbal hasil jangka pendek yang menarik, memperbaiki stabilitas rupiah dalam jangka pendek," kata Rully.

Namun terjadi penyempitan selisih imbal hasil dan ketidakpastian global yan berlanjut. Sehingga berpotensi membatasi arus masuk obligasi dan membuat premi risiko tetap tinggi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....