Kemenkeu Sebut Daya Tahan Ekonomi Indonesia Kuat
- 07 Jan 2026 18:03 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Kementerian Keuangan menyatakan perekonomian Indonesia hingga akhir 2025 menunjukkan daya tahan yang kuat di tengah tekanan global. Hal ini menjadi modal penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat pada tahun ini.
Demikian disampaikan Direktur Jenderal (Dirjen) Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu, Rabu (7/1/2026) di Jakarta. "Perekonomian Indonesia pada 2025 tetap resilien didukung aktivitas manufaktur yang ekspansif, inflasi terkendali, dan surplus neraca perdagangan" ujarnya.
Menurut Febrio, kinerja aktivitas manufaktur masih positif ditandai dengan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur di atas angka 50. Dibandingkan pada November 2025 yang tercatat 53,3, PMI Manufaktur Indonesia pada Desember 2025 memang turun menjadi 51,2.
Namun, lanjut dia, ini menunjukkan aktivitas manufaktur masih dalam level ekspansif. Hal ini didukung kuatnya permintaan domestik, peningkatan ketenagakerjaan, serta aktivitas pembelian bahan baku.
"Prospek sektor manufaktur ke depan tetap positif didukung optimisme pelaku usaha yang tetap kuat," ucapnya. "Keyakinan pelaku usaha mencapai level tertinggi dalam tiga bulan terakhir."
Aktivitas manufaktur negara mitra utama Indonesia secara umum juga berada di zona ekspansif. PMI manufaktur Amerika Serikat (AS) berada di level 51,8, sedangkan Tiongkok 50,1 dan India 55,7.
PMI manufaktur negara-negara ASEAN juga menguat, dan menjadi sinyal positif bagi permintaan ekspor Indonesia. PMI manufaktur Thailand misalnya tercatat di level 57,4 dan Malaysia pada 50,1.
Baca juga: BI Optimis Inflasi Terkendali Tahun 2026-2027
Baca juga: Harga Beras Masih Cenderung Naik
Sementara itu, neraca perdagangan Indonesia pada 2025 juga masih melanjutkan tren surplus. Secara kumulatif dari Januari hingga November 2025, surplus neraca perdagangan tercatat sebesar USD38,54 miliar.
Nilai ekspor pada Januari-November 2025 mencapai USD256,56 miliar, naik 5,61 persen dibandingkan periode yang sama pada 2024. Sektor industri pengolahan menjadi kontributor utama peningkatan ekspor dengan andil sebesar 10,41 persen.
Sedangkan nilai impor pada Januari-November 2025 tercatat sebesar USD218,02 miliar, naik 2,03 persen dibandingkan periode yang sama pada 2024. Impor barang modal menjadi kontributor utama peningkatan impor dengan andil sebesar 3,28 persen.
Febrio mengatakan untuk mengantisipasi berbagai dinamika global, pemerintah mendorong keberlanjutan hilirisasi sumber daya alam. "Juga meningkatkan daya saing ekspor nasional dan melakukan diversifikasi mitra dagang utama," ujarnya.
Stabilitas harga sepanjang 2025 juga tetap terjadi, yang tercermin dari laju inflasi terkendali sebesar 2,92 persen. Indeks Keyakinan Konsumen juga menguat ke level 124 dan Indeks Penjualan Riil tumbuh 5,94 persen pada akhir 2025.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, dalam beberapa kesempatan menyatakan pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2025 berada di kisaran 5,6-5,7 persen. "Sehingga pertumbuhan ekonomi sepanjang 2025 bisa mencapai 5,2 persen sesuai target pemerintah," ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....