AS Serang Venezuela, Rupiah Makin Tertekan Dolar AS
- 05 Jan 2026 11:26 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Nilai tukar rupiah belum menunjukkan tanda-tanda akan bangkit dari tekanan dolar Amerika Serikat (AS). Menurut, rupiah pada Senin (5/1/2025) dibuka turun 0,12 persen menjadi Rp16.725 per dolar AS.
Pada penutupan perdagangan akhir pekan kemarin, rupiah juga melemah di level Rp16.724 per dolar AS. "Kemungkinan rupiah akan mengalami depresiasi ke kisaran Rp16.750 per dolar AS," kata analis pasar uang, Fikri C.Permana, Senin (5/1/2025).
Baca juga: IHSG Dibuka Naik di Tengah Risiko Tensi Geopolitik
Baca juga: Rupiah Melemah Tertekan Tensi Geopolitik dan Risalah Fed
Sementara itu indeks dolar AS menguat ke level 98, 68. Menurut Fikri, pergerakan mata uang termasuk rupiah terhadap dolar AS dipengaruhi perkembangan geopolitik.
"Sentimen risk off semakin meningkat," ucapnya. Pelaku pasar cenderung menghindari risiko setelah penangkapan ilegal Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, oleh militer AS.
Agresi Washington ke Caracas diperkirakan akan memicu harga harga minyak mentah. Para investor juga akan mengalihkan investasinya ke aset yang lebih aman seperti emas dan mata uang dolar.
Kondisi itulah yang akan mendorong penguatan dolar dan akan menekan mata uang lainnya. Selain rupiah, mata uang yen Jepang, dolar Singapura, won Korea, ringgit Malaysia, dan peso Filipina juga ikut tertekan. oleh dolar AS.
Hanya mata uang baht Thailand dan dolar Taiwan yang menguat terhadap dolar AS hari ini, Senin (5/1/2025). Selain tensi geopolitik, pergerakan mata uang akan dipengaruhi rilis data ekonomi.
Di dalam negeri, pelaku pasar akan mencermati sejumlah data ekonomi yang akan dirilis Badan Pusat Statistik (BPS). "Terutama tingkat inflasi yang diperkirakan meningkat pada Desember 2025," ujar Fikri menutup analisisnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....