Utang Luar Negeri Indonesia per Oktober 2025 Turun
- 15 Des 2025 12:43 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Bank Indonesia (BI) melaporkan utang luar negeri (ULN) Indonesia per Oktober 2025 tercatat sebesar USD423,9 miliar. Jumlah itu setara dengan Rp7.054,54 triliun dengan kurs rupiah Rp16.642 per dolar Amerika Serikat (AS).
Ini berarti ULN Indonesia pada Oktober 2025 turun dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar USD425,6 miliar (setara Rp7.082,83 triliun). Demikian disampaikan Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, melalui keterangannya pada Senin (15/12/2025).
Menurut dia, secara tahunan (year on year/yoy) ULN Indonesia tumbuh 0,3 persen. "Ini akibat pertumbuhan ULN sektor publik," katanya.
Baca juga: Analis Perkirakan Rupiah Bergerak Datar Meski Dibuka Menguat
Baca juga: IHSG Dibuka Zona Hijau, Diperkirakan Menguat Hari Ini
Denny menambahkan ULN pemerintah pada Oktober 2025 tetap terjaga pada posisi USD210,5 miliar, tumbuh 4,7 persen secara tahunan. "Perkembangan ULN pemerintah dipengaruhi aliran masuk modal asing pada Surat Berharga Negara (SBN) internasional," ujarnya.
Ini seiring tetap tingginya kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia yang positif. Meskipun ketidakpastian pasar keuangan global terus menunjukkan tanda-tanda peningkatan.
ULN pemerintah diarahkan untuk mendukung pembiayaan program-program prioritas dan penguatan perekonomian nasional. Di antaranya sektor jasa kesehatan dan kegiatan social, yang mencapai 22,2 persen dari total ULN pemerintah.
ULN pemerintah juga digunakan untuk membiayai administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (19,6 persen). Kemudian jasa pendidikan (16,4 persen), konstruksi (11,7 persen), serta transportasi dan pergudangan (8,6 persen).
Sedangkan ULN swasta tercatat sebesar USD190,7 miliar pada Oktober 2025, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya sebesar USD192,5 miliar. Secara tahunan (year on year/yoy), ULN swasta mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 1,9 persen.
Penurunan ULN swasta terjadi pada kelompok peminjam lembaga keuangan dan perusahaan bukan lembaga keuangan. Masing-masing mengalami kontraksi sebesar 4,7 persen dan 1,2 persen secara tahunan.
Posisi ULN swasta terbesar berasal dari sektor industri pengolahan, serta jasa Keuangan dan asuransi. Kemudian sektor pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian yang totalnya mencapai 80,9 persen dari ULN swasta.
Menurut Denny, tetap sehatnya struktur ULN Indonesia karena didukung penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Ini tercermin dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada Oktober 2025 yang sebesar 29,3 persen.
Selain itu, ULN Indonesia didominasi utang yang bersifat jangka panjang dengan pangsa 86,2 persen. "Karena itu, BI akan mengoptimalkan peran ULN untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan," ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....