Penutupan Perdagangan, Rupiah Berhasil Menguat 19 Poin

  • 09 Des 2025 20:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Nilai tukar rupiah berhasil menguat terhadap dolar AS dalam penutupan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah naik 0,11 persen atau 19 poin menjadi Rp16.676 per dolar AS.

"Ekspektasi pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin oleh The Fed tetap kuat. Pasar berjangka saat ini memperkirakan peluang pelonggaran suku bunga di bulan Desember ini sebesar 87 persen," kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Selasa (9/12/2025).

Baca Juga:

Rupiah Berbalik Menguat Tapi Masih Rawan Koreksi

IHSG Dibuka Melesat ke Level 8.743

Hal itu, lanjutnya, mencerminkan harapan akan inflasi yang lebih rendah. Di sisi lain, data ketenagakerjaan dapat mendorong langkah pemangkasan suku bunga the Fed.

"Namun, ada kehati-hatian di antara beberapa investor karena sinyal beragam dari para pembuat kebijakan. Mereka menggarisbawahi ketidakpastian seputar kekuatan ekonomi AS yang membuka kemungkinan siklus pelonggaran bertahap atau bahkan tertunda," ujar Ibrahim.

Fokus pasar hari ini, menurut Ibrahim, pada laporan ketenagakerjaan AS menjelang keputusan suku bunga Fed. Jika hasilnya lebih lemah dari perkiraan, hal ini juga dapat meningkatkan ekspektasi penurunan suku bunga AS.

Dari dalam negeri, Bank Dunia mengingatkan utang luar negeri jangka pendek Indonesia meningkat. "Kenaikannya sempat 'mengguncang' stok utang jangka pendek kawasan Asia Timur dan Pasifik pada 2024," ucap Ibrahim.

Berdasarkan laporan Bank Dunia dalam International Debt Report 2025, kenaikan utang jangka pendek Indonesia pada 2024, mencapai 29,1 persen. Sedangkan nilainya mencapai USD65,12 miliar atau setara Rp1.074 triliun (kurs Rp16.500/dolar AS).

Tahun sebelumnya, utang luar negeri jangka pendek Indonesia mencapai USD50,45 miliar (Rp832,4 triliun). Bank Dunia mencatat, lonjakan kenaikan utang jangka pendek itu dipicu agresivitas penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

SRBI merupakan instrumen operasi moneter Bank Indonesia untuk mempertahankan nilai tukar rupiah, dan menarik aliran modal asing. "Efek dari lonjakan utang itu menurut Bank Dunia, mendorong kenaikan utang luar negeri jangka pendek kawasan Asia Timur dan Pasifik," ujar Ibrahim.

Kenaikannya mencapai sebesar 12,7 persen menjadi USD201,7 miliar, hampir setengah dari arus masuk utang jangka pendek ke Indonesia. Bank Dunia mencatat, pada 2024 total stok utang luar negeri Indonesia sebesar USD421,05 miliar.

Mayoritas berasal dari stok utang luar negeri jangka panjang USD347,54 miliar, atau naik dari USD340,52 miliar di tahun 2023. Nilai stok utang luar negeri itu setara dengan 135 persen dari ekspor, dan 31 persen dari pendapatan nasional bruto.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....