Rupiah Makin Merosot ke Level Rp16.695/Dolar AS
- 08 Des 2025 20:17 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih berlanjut hingga penutupan perdagangan hari ini, Senin (8/12/2025). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah turun 0,28 persen atau 47 poin menjadi Rp16.695 per dolar AS.
Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi menyebut ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga the Fed makin menguat. “Tanda-tanda perlambatan ekonomi Amerika Serikat, termasuk indikator ketenagakerjaan yang lebih lemah, memperkuat ekspektasi tersebut,” kata Ibrahim dalam analisisnya, Senin (8/12/20250.
Baca Juga:
Rupiah Anjlok di Awal Pekan, Rp16.685 per Dolar
Harga Emas Berkilau, Antisipasi Suku Bunga The Fed
Pasar memperkirakan the Fed akan menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin bulan Desember ini. “Penurunan suku bunga meningkatkan harapan akan biaya pinjaman yang yang lebih rendah untuk mendukung pertumbuhan global dan ekuitas,” ujar Ibrahim.
Namun, optimisme tersebut diredam oleh kehati-hatian beberapa pejabat the Fed. Ketua the Fed, Jerome Powell sebelumnya bahkan mengatakan, keputusan suku bunga yang akan datang, bukanlah suatu kepastian.
“Hal itu membuat pelaku pasar tetap waspada terhadap potensi kejutan yang bersifat hawkish,” ucap Ibrahim. Ia juga menyebut konflik geopolitik AS-Venezuela dan perang Rusia Ukraina mempengaruhi pergerakan mata uang.
Upaya perundingan damai Rusia-Ukraina yang diinisiasi AS, menemui jalan buntu. Sementara AS terus menekan Venezuela bahkan mulai membahas upaya menggulingkan Presiden Nicolas Maduro.
AS menuding Venezuela menyelundupkan obat-obat terlarang dari anggota OPEC. Padahal yang menjadi incaran AS adalah sumber minyak Venezuela, karena negara itu salah satu penghasil minyak yang penting.
Di dalam negeri, Ibrahim mencermati perkembangan indikator perekonomian domestik. Menurutnya, daya tahan perekonomian Indonesia jelang akhir tahun masih cukup kuat.
Indikatornya, berupa PMI Manufaktur berada di level ekspansi 53,3 dan inflasi stabil 2,7 persen. Selain itu, Indeks Keyakinan Konsumen mencapai level tertinggi dalam lima bulan terakhir.
“inflasi rendah menegaskan daya beli masyarakat masih terjaga. Indikator-indikator tersebut memberi sinyal bahwa perekonomian Indonesia tetap tangguh memasuki tahun 2026,” kata Ibrahim menutup analisisnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....