Penutupan Perdagangan, IHSG Bangkit ke Level 8.640

  • 04 Des 2025 20:32 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) menguat di akhir perdagangan sesuai perkiraan para analis. IHSG terpantau naik 0,33 persen atau 28,41 poin ke level 8.640.

Sepanjang hari ini, IHSG bergerak di area hijau, dan sempat mencapai level tertinggi 8.650. Sebanyak 378 saham harganya naik, 319 saham harganya turun dan 259 saham stagnan.

“Saham sektor industrial naik paling kuat sebesar 4,78 persen, saham sektor bahan baku turun paling dalam sebesar -0,66 persen,” kata Tim Analis Phintraco Sekuritas, Kamis (4/12/2025). Indeks LQ45 yang berisi saham unggulan juga menguat, didominasi saham UNTR, AKRA, EXCL, MAPI dan HEAL.

Baca Juga:

Rupiah Makin Loyo ke Level Rp16.653/Dolar AS

Rupiah Berpeluang Menguat Meski Dibuka Melemah Hari Ini

Volume saham yang diperdagangkan sebanyak 50,58 miliar lembar saham, dengan frekuensi perdagangan sebanyak 2,77 juta kali transaksi. Total nilai perdagangan mencapai Rp21,16 triliun dan kapitalisasi pasar menjadi Rp15.857 triliun.

Tim Analis Phintraco mengatakan, pelaku pasar saat ini sedang menunggu rilis data dacangan devisa bulan November 2025. Data tersebut akan dirilis Bank Indonesia hari Jumat (5/12/2025).

Tim Phintraco juga mencermati bencana Sumatra yang dikhawatirkan akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi triwulan IV. Meskipun pengaruhnya diperkirakan tidak terlalu signifikan.

“Beberapa ekonom memperkirakan pertumbuhan ekonomi triwulan IV lebih rendah dari proyeksi pemerintah di kisaran 5,6-5,7 persen,” ucap Tim Phintraco. Di sisi lain, pasar juga mencermati pernyataan-pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.

“Menteri Keuangan Purbaya membantah akan menarik kembali dana pemerintah yang dialihkan ke bank Himbara. Menkeu memastikan bahwa dana tersebut tetap digunakan untuk ekspansi kredit,” kata Tim Phintraco.

Sementara itu, bursa saham di kawasan Asia juga ditutup menguat hari ini. Penguatan juga didorong oleh ekspektasi kebijakan moneter the Fed yang lebih dovish (longgar).


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....