Penutupan Perdagangan, Nilai Tukar Rupiah Melejit ke Rp16.624
- 02 Des 2025 19:42 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Mata uang rupiah menguat signifikan terhadap dolar AS dalam penutupan perdagangan hari ini. Mengacu data Bloomberg, nilai tukar rupiah naik 0,23 persen atau 38 poin menjadi Rp16.624 per dolar AS.
Penguatan rupiah berlanjut seiring melemahnya dolar AS karena sentimen pemangkasan suku bunga the Fed yang makin kuat. “Perangkat CME Fedwatch menunjukkan peluang penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan Desember mencapai 87,4 persen,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi dalam analisisnya, Selasa (2/12/2025).
Selain itu, siapa yang akan ditunjuk Presiden Trump sebagai Ketua the Fed menggantikan Jerome Powell juga memicu spekulasi. Penasihat Ekonomi Nasional Gedung Putih, Kevin Hassett disebut-sebut sebagai kandidat terkuat.
Sementara itu Presiden Trump mengatakan sudah menentukan pilihannya. Tapi ia tidak akan memberi tahu pilihannya pada siapa pun.
Baca Juga:
Dolar AS sedang Tertekan, Penguatan Rupiah Diperkirakan Berlanjut
Pembukaan Perdagangan, IHSG Lanjutkan Penguatan ke Level 8.577
“Di sisi lain, data Institute for Supply Management (ISM) menunjukkan aktivitas manufaktur Amerika Serikat bulan November terkontraksi. Harga input meningkat dan pasar tenaga kerja masih dalam kondisi rendahnya pemecatan dan perekrutan,” ujar Ibrahim.
Ketegangan Rusia-Ukraina kembali memanas, Ukraina terus melakukan serangan pesawat nirawak terhadap infrastruktur Rusia. Sehingga sempat mengganggu aktivitas di terminal Laut Hitam Konsorsium Pipa Kaspia, jalur utama minyak mentah Kazakhstan dan Rusia.
Pada saat yang sama, terjadi ketegangan antara Washington dan Venezuela setelah Trump menuduh Venezuela membiarkan pengiriman narkoba. AS mengancam akan melakukan pembatasan dan menutup wilayah udaranya bagi Venezuela.
Dari dalam negeri, pelaku pasar mencermati laju inflasi Indonesia dan posisi utang pemerintah. Berdasarkan data Badan Pusat Statitisk, inflasi tahunan sebesar 2,72 persen pada November 2025.
“Inflasi tersebut terutama dipicu oleh inflasi komponen inti yang naik 0,17 persen dan berkontribusi 0,11 tehadap inflasi nasional. Komoditas emas perhiasan kembali menjadi pendorong utama, harga emas naik hampir empat persen dengan andil inflasi 0,08 persen,” ucap Ibrahim.
Sementara itu, Kementerian Keuangan mencatatkan posisi utang pemerintah hingga akhir kuartal III-2025 sebesar Rp 9.408,64 triliun. Penerbitan Surat Berharga Negara sebesar (SBN) Rp 8.187,55 triliun mendominasi utang pemerintah, meningkat 2,9 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.
Sumber utang pemerintah lainnya berasal dari pinjaman sebesar Rp 1.221,09 triliun. Rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) sudah mencapai 40,30 persen.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....