BPS: Penurunan Harga Beras Redam Inflasi November 2025

  • 01 Des 2025 16:39 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Komoditas beras menjadi peredam inflasi pada November 2025. Demikian disampaikan Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Pudji Ismartini, Senin (1/12/2025) di Jakarta.

"Inflasi beras pada November 2025 tercatat sebesar 0,59 persen dengan andil sebesar 0,02 persen," ujarnya. Menurut Pudji, deflasi beras terjadi di 28 provinsi kemudian inflasi di delapan provisi dan dua provinsi stabil.

Deflasi beras terendah berlangsung di Provinsi Sulawesi Tenggara sebesar minus 3,13 persen. Sedangkan inflasi beras tertinggi terjadi di Provinsi Papua Barat sebesar 1,48 persen.

Baca juga: Emas Perhiasan Kembali Picu Inflasi November 2025

Jika dilihat historisnya, komoditas beras mengalami inflasi pada November 2022 dan 2023. Saat itu tingkat inflasinya lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya.

"Sedangkan pada November 2024 dan 2025 komoditas beras mengalami deflasi," kata Pudji. Dibandingkan bulan sebelumnya pada dua periode tersebut, tingkat deflasinya juga lebih rendah.

BPS melaporkan deflasi atau penurunan harga beras terjadi mulai dari tingkat penggilingan, grosir, dan eceran. Secara bulanan, harga rata-rata beras di tingkat penggilingan pada November 2025 turun 0,88 persen.

Di tingkat grosir harga rata-rata beras turun 0,93 persen, dan tingkat eceran turun 0,59 persen. Namun, secara tahunan harga beras saat ini di tingkat penggilingan, grosir, dan eceran, masih lebih tinggi dibandingkan 2024.

Selain beras, komoditas yang meredam inflasi pada November 2025 adalah daging ayam ras, cabai merah, dan telur ayam ras. Ketiga komoditas itu mengalami penurunan harga dengan andil inflasi masing-masing 0,03 persen, 0,02 persen dan 0,01 persen.

Sementara itu, komoditas yang yang mengalami kenaikan harga paling dominan pada November 2025 adalah bawang dan wortel. Andil inflasinya masing-masing sebesar 0,03 persen dan 0,02 persen.

"Umumnya, komoditas bawang merah selalu mengalami inflasi setiap November (pada 2023-2025)," ujar Pudji. Sedangkan komoditas wortel sejak pertengahan Juni 2024 mengalami volatilitas kenaikan harga yang cukup tinggi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....