Rupiah Masih Sulit Menguat, Ditutup Turun 0,23 Persen

  • 28 Nov 2025 20:27 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS dalam penutupan perdagangan akhir pekan. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 0,23 persen atau 39 poin menjadi Rp16.675 per dolar AS.

Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, rupiah masih sulit menguat terhadap dolar AS. "Penyebabnya, investor yang masih enggan masuk ke pasar valuta asing (valas)," kata Ibrahim, Jumat (28/11/2025).

Baca Juga:

Sepi Data Ekonomi, Rupiah Dibuka Melemah Lagi

ADB Tunjuk Direktur Baru untuk Indonesia, Simak Profilnya

Menurut Ibrahim, beberapa data ekonomi AS yang baru dirilis memberi gambaran yang beragam terkait kondisi ekonomi AS. Misalnya data tenaga kerja non-pertanian lebih kuat dari perkiraan dan Indeks Harga Produsen inti yang lebih lemah.

Data pesanan Barang Tahan Lama optimis, kontras dengan penjualan ritel yang lebih lemah. Sementara itu, jumlah pengangguran di AS mengalami peningkatan.

"Meski sinyal ekonomi beragam, pelaku pasar tetap yakin The Fed akan melonggarkan kebijakan moneternya bulan Desember. Perangkat CME FedWatch Tool menyebutkan, probabilitasnya sekitar 85 persen untuk pengurangan suku bunga sebesar 25 basis poin bulan depan," ucap Ibrahim.

Sementara itu, AS dan Ukraina masih berupaya menyusun kerangka kerja perdamaian dengan Rusia. Kerangka kerja yang dibahas di Jenewa itu, diharapkan dapat menjadi jaminan keamanan dan dasar perundingan dengan Moscow.

Namun Presiden Rusia Vladimir Putin menekankan, belum ada draft akhir yang disetujui dan Moskow tidak akan menawarkan konsesi besar. Pendekatan terhadap Rusia akan dilakukan oleh Utusan khusus AS, Steve Witkoff yang akan mengunjungi Moskow minggu depan.

Dari dalam negeri, pelaku pasar mencermati pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Utamanya terkait pemindahan dana pemerintah dari Bank Indonesia (BI) ke Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).

"Menurutnya, kebijakan itu akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi sekitar 0,2 persen pada kuartal IV 2025. Pemerintah optimis pertumbuhan ekonomi sepanjang Oktober, November, dan Desember tahun ini mampu mencapai 5,6 — 5,7 persen," ujar Ibrahim.

Kemenkeu telah menambahkan likuiditas senilai total Rp7 triliun kepada Bank Mandiri, Bank BNI, dan BRI masing-masing Rp25 triliun. Kemudian, Bank DKI mendapat Rp1 triliun, sehingga guyuran likuiditas oleh pemerintah sudah mencapai Rp276 triliun.

Pertumbuhan ekonomi triwulan IV juga akan ditopang oleh paket stimulus pemerintah. Stimulus itu berupa diskon tarif tiket transportasi selama libur Natal dan Tahun Baru, termasuk penambahan bantuan langsung tunai (BLT).


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....