Ekspektasi Suku Bunga Sebabkan Nilai Tukar Rupiah Melemah

  • 26 Nov 2025 18:57 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Nilai tukar rupiah melemah 0,04 persen atau 7 poin menjadi Rp16.664 per dolar AS. Rupiah masih berfluktuasi karena sentimen pasar terhadap ekspektasi pemangkasan suku bunga bank sentral Amerika Serikat.

"Data ekonomi AS yang tertunda dan baru dirilis Selasa kemarin, meningkatkan harapan akan pemangkasan tersebut," kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Rabu (26/11/2025). Selain itu, pasar mencermati perkembangan perundingan damai Rusia-Ukraina yang tersendat.

Baca Juga:

Rupiah Diperkirakan Lanjutkan Penguatan Hari Ini

IHSG 'Rebound', Dibuka Naik ke Level 8.533

Alih-alih berunding, Rusia dan Ukraina masih saling serang. "Risiko geopolitik menjadi pendorong prospek penurunan suku bunga the Fed bulan Desember mendatang," ujar Ibrahim.

Di AS, data Indeks Harga Produsen (IHP) bulan September naik 0,3 persen secara bulanan sesuai perkiraan. Tapi IHP Inti (tidak termasuk makanan dan energi) naik 0,2 persen di bawah perkiraan 0,3 persen.

Penjualan Ritel hanya naik 0,2 persen secara bulanan, turun dari kenaikan 0,6 persen di bulan Agustus. Penurunan menunjukkan belanja konsumen yang lebih lemah.

Sementara itu, Conference Board melaporkan bahwa sentimen rumah tangga memburuk pada bulan November. Keyakinan Konsumen turun 6,8 poin menjadi 88,7 dari 95,5 pada bulan Oktober.

Sinyal dovish (longgar) the Fed dalam beberapa hari terakhir, mendorong pelaku pasar untuk meningkatkan taruhan penurunan suku bunga. Arah the Fed berbalik dari yang sebelumnya hawkish (ketat), terlihat dari nada hati-hati para pejabat the Fed.

"Perangkat CME FedWatch Tool menunjukkan peluang penurunan suku bunga bulan Desember sekitar 80 persen. Meski demikian ketidakpastian masih ada karena perbedaan pandangan di kalangan pejabat the Fed mengenai pemangkasan suku bunga," ucap Ibrahim.

Bagaimana sikap the Fed secara keseluruhan baru akan terlihat setelah pertemuan the Fed bulan Desember. Serta rilis data inflasi dan ketenagakerjaan setelah pertemuan tersebut.

Di dalam negeri pelaku pasar mencermati target pertumbuhan ekonomi 6 persen yang disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Para ekonom menilai target itu realistis, namun untuk mencapainya harus ada perubahan pendekatan dalam mendorong aktivitas ekonomi.

"Langkah penempatan dana pemerintah di perbankan mulai terlihat hasilnya, namun masih jauh dari optimal," kata Ibrahim. Pelaku pasar berpandangan pemerintah juga harus melakukan reformasi pasar tenaga kerja dan memberikan dukungan ke sektor industri.

Selebihnya, langkah Menteri Keuangan menertibkan impor barang-barang ilegal atau thrifting, sudah tepat untuk melindungi industri dalam negeri. Selanjutnya, pemerintah diharapkan memberikan insentif pajak bagi perusahaan yang membuka lapangan pekerjaan baru.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....