Akhir Pekan, Rupiah Bangkit dari Tekanan Dolar AS
- 21 Nov 2025 20:16 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Nilai tukar rupiah berhasil menguat terhadap dolar AS dalam penutupan perdagangan akhir pekan ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah naik 0,12 persen atau 20 poin menjadi Rp16.716 per dolar AS.
Nilai tukar rupiah menguat setelah Bank Indonesia (BI) merilis laporan transaksi berjalan Indonesia untuk kuartal III 2025. Transaksi berjalan untuk periode tersebut tercatat surplus sebesar USD4 miliar atau 1,1 dari Produk Domestik Bruto (PDB)
“Surplus ini ditopang oleh neraca perdagangan Indonesia yang meningkat, disumbang terutama oleh kenaikan surplus neraca perdagangan nonmigas,” kata Analis Pasar Uang Ibrahima Assuaibi mengutip laporan BI, Jumat (21/11/2025). Sementara itu, defisit neraca jasa menurun, seiring kenaikan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia.
Baca Juga:
Rupiah Masih Berisiko Melemah Meski Dibuka Menguat
Uang Beredar Oktober 2025 Turun Jadi Rp9.783,1 Triliun
Neraca pendapatan primer juga mencatat defisit yang lebih rendah. Penyebabnya, penurunan pembayaran imbal hasil investasi asing seiring telah berlalunya periode pembayaran dividen dan bunga/kupon.
BI mencatat kenaikan harga minyak global, menyebabkan defisit neraca perdagangan migas. Sedangkan transaksi modal dan finansial tetap terkendali di tengah masih tingginya ketidakpastian global.
Investasi portofolio, menurut laporan BI, mencatat defisit karena aliran keluar modal asing dalam bentuk surat utang. Investasi lainnya defisit dipengaruhi kenaikan pembayaran pinjaman sektor swasta.
“Sehingga transaksi modal dan finansial pada triwulan III 2025 mencatat defisit sebesar USD8,1 miliar,” ucap Ibrahim. Ia memperkirakan nilai tukar rupiah Senin depan masih fluktuatif dengan kecenderungan melemah Rp16.710 - Rp16.740 per dolar AS.
Dari sisi eskternal, sentimen pasar dipengaruhi oleh sikap ‘hawkish’ the Fed. Sehingga pasar menurunkan ekspektasi pemangkasan suku bunga the Fed di bulan Desember.
Sejumlah pejabat the Fed melihat inflasi masih tinggi di kisaran 3 persen. Selain itu, data tenaga kerja di Amerika Serikat lebih kuat dari yang diperkirakan.
“Data pekerjaan menunjukkan penambahan tak terduga sebesar 119.000 lapangan kerja untuk bulan September. Tetapi tingkat pengangguran naik menjadi 4,4 persen,” ujar Ibrahim.
Konflik geopolitik antara Rusia dan Ukraina masih mencari solusi damai. Di sisi lain, AS malah menjatuhkan sanksi pada perusahaan minyak Rusia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....