Penutupan Perdagangan, IHSG Kembali Tembus Rekor Baru

  • 17 Nov 2025 21:13 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencetak rekor baru dalam penutupan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG naik 0,55 persen atau 26,44 poin ke level 8.416,88.

Sepanjang hari ini, perdagangan saham berada di zona hijau. Sebanyak 354 saham harganya naik, 287 saham harganya turun dan 173 saham stagnan.

“Saham sektor properti membukukan penguatan terbesar (2,41 persen). Sedangkan saham sektor bahan baku memcatatkan koreksi terbesar (-2,06 persen),” kata Tim Analis Phintraco Sekuritas, Senin (17/11/2025).

Baca Juga:

IHSG Melesat ke 8.430 di Sesi Pertama Perdagangan

Analisis Harga Emas Pekan Ini, Masih Belum Stabil

Volume saham yang diperdagangkan sebanyak 40,99 miliar lembar saham, dengan frekuensi perdagangan 2,58 juta kali transaksi. Total nilai perdagangan sebesar Rp21,07 triliun dan kapitalisasi pasar menjadi Rp15.406 triliun.

Tim Phintraco dalam analisisnya menyebutkan, IHSG masih berpotensi melanjutkan penguatan, menguji level 8.450-8.480. Ditopang oleh sejumlah sentimen positif baik dari dalam negeri maupun global.

IHSG melesat, sementara bursa saham di kawasan Asia ditutup bervariasi. Menurut Tim Phintraco, para investor pasar modal di Asia mencermati meningkatnya ketegangan politik Tiongkok-Jepang.

“Ketegangan dipicu oleh peringatan yang dikeluarkan Tiongkok bagi warganya yang berencana melakukan perjalanan dan studi ke Jepang.Kementerian Pendidikan Tiongkok menyatakan meningkatnya risiko keselamatan bagi warga negara Tiongkok di Jepang,” ujar Tim Phintraco.

Di sisi lain, data ekonomi Jepang menunjukkan, perekonomian Negeri Sakura itu terkontraksi pada triwulan III-2025. Secara kuartalan, perekonomian melambat menjadi 0,4 persen dibandingkan 0,6 persen di kuartal II-2025.

Namun kontraksi 0,4 persen masih lebih baik dari perkiraan pasar yang memprediksi kontraksi sebesar 0,6 persen. “Ini merupakan kontraksi pertama sejak kuartal I-2024 akibat melemahnya konsumsi masyarakat di tengah meningkatnya tekanan harga,” ucap Tim Phintraco menutup analisisnya.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....