Rupiah Kembali Merosot Jadi Rp16.736/Dolar AS

  • 17 Nov 2025 20:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Nilai tukar rupiah belum berhasil keluar dari tekanan dolar AS, karena masih melemah hingga penutupan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup turun 0,17 persen atau 29 poin menjadi Rp16.736 per dolar AS.

Dolar masih menguat dipengaruhi sentimen pemangkasan suku bunga the Fed. “Pelaku pasar semakin yakin the Fed kemungkinan besar tidak akan melonggarkan kebijakan dalam waktu dekat,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Senin (17/11/2025).

Sinyal itu disampaikan sejumlah pejabat the Fed yang menekankan bahwa inflasi masih tinggi. Selain itu kondisi pasar tenaga kerja masih cukup kuat.

Baca Juga:

Rupiah Diperkirakan Konsolidasi dengan Kecenderungan Menguat

Analisis Harga Emas Pekan Ini, Masih Belum Stabil

Pelaku pasar kini sedang menunggu pernyataan pejabat the Fed yang akan menyampaikan pidatonya hari ini waktu setempat. Di antaranya John Williams, Philip Jefferson, Neel Kashkari, dan Christopher Waller.

Setelah pembukaan kembali pemerintah federal, data tenaga kerja kemungkinan akan dirilis hari Kamis. Termasuk laporan penggajian non-pertanian bulan September 2025.

Sementara itu, serangan Ukraina terhadap kilang-kilang minyak Rusia menimbulkan kekhawatiran akan terganggung pasokan. Meskipun dilaporkan, kapal-kapal tanker telah memuat kembali minyak mentah di pelabuhan.

Di dalam negeri, pelaku pasar menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG-BI) yang akan dirilis Rabu lusa. Terutama kebijakan BI mengenai suku bunga atau BI Rate.

Dalam RDG bulan Oktober, BI mempertahankan suku bunga di level 4,75 persen. Kebijakan tersebut untuk mempertahankan stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, peluang penurunan BI Rate ke depan masih terbuka. Kapan dan besarnya ditentukan dengan mempertimbangkan laju inflasi dan potensi pertumbuhan ekonomi.

“BI juga akan mencermati efektivitas transmisi kebijakan moneter longgar, terutama pada penyaluran kredit. Serta mengamati stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS,” kata Gubernur Perry dalam keterangannya mengenai kebijakan BI Rate.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....