Rupiah Melemah ke Level Rp16.717 per Dolar AS
- 12 Nov 2025 21:04 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Nilai tukar rupiah terus melemah terhadap dolar AS hingga penutupan perdagangan hari ini. Mengacu pada data Bloomberg, rupiah ditutup turun 0,14 persen atau 23 poin menjadi Rp16.717 per dolar AS.
Pelemahan rupiah masih dipengaruhi oleh kondisi eksternal, sebagai faktor yang paling dominan. Terutama perkembangan ‘shutdown’ pemerintahan Amerika Serikat.
“DPR AS akan melakukan pemungutan suara untuk mengakhiri penutupan pemerintah. Partai Republik telah mengisyaratkan akan menyetujui RUU tersebut pada hari Rabu waktu setempat,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Rabu (12/11/2025).
Setelah itu RUU tersebut akan diserahkan kepada Presiden Trump untuk ditandatangani menjadi undang-undang. “Berakhirnya penutupan pemerintah akan membuka pintu bagi lebih banyak rilis data ekonomi resmi sehingga dapat meredakan ketidakpastian perekonomian,” ucap Ibrahim.
Baca Juga:
Tekanan Masih Tinggi, Rupiah Kemungkinan Terus Melemah
Perdagangan Saham Kembali Menguat, IHSG Berpeluang Tembus 8.400
Sementara itu, The Wall Street Journal menyebutkan adanya perpecahan yang semakin besar di antara para pembuat kebijakan Federal Reserve. Perpecahan itu menyangkut kemungkinan pemangkasan suku bunga pada bulan Desember 2025.
Pelaku pasar juga akan mencermati pidato sejumlah pejabat the Fed, seperti John Williams, Christopher Waller, Raphael Bostic, dan Stephen Miran. Para pejabat the Fed itu dijadwalkan akan berbicara dalam berbagai forum.
Dari dalam negeri, pelaku pasar mencermati proyeksi Bank Indonesia terhadap pertumbuhan ekonomi tahun 2026 sebesar 5,4 persen. Perkiraan tersebut lebih rendah dari yang ditetapkan pemerintah dan DPR yaitu sebesar 5,4 persennnnnnnnn
Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,33% pada 2026. Proyeksi tersebut di bawah target yang telah ditetapkan pemerintah dan DPR yaitu sebesar 5,4 persen.
“Prakiraan pertumbuhan 5,3 tahun depan, berdasarkan perkembangan ekonomi global maupun domestik. Target pemerintah juga realistis, namun tergantung kecepatan realisasi belanja stimulasi fiskal ke depan,” ujar Ibrahim.
BI juga turut memberikan dukungan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui ekspansi likuiditas moneter dan makroprudensial. Harapannya, kebijakan ini dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun dan tahun depan.
Di sisi lain, organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya mencapai 4,9 persen pada 2026. Perkiraan OECD itu lebih rendah dari target pertumbuhan ekonomi pemerintah maupun terhadap BI di atas 5 persen.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....