Penutupan Perdagangan, Rupiah Hanya Naik Lima Poin
- 09 Okt 2025 16:51 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Nilai tukar rupiah menguat tipis terhadap dolar AS dalam penutupan perdagangan hari ini, Kamis (9/10/2025). Data Bloomberg menunjukkan, rupiah naik 0,03 persen atau 5 poin menjadi Rp16.568 per dolar AS.
Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pasar keuangan masih terbebani oleh kekhawatiran akan kondisi perekonomian AS. Serta konflik geopolitik yang belum reda baik di kawasan Eropa maupun Timur Tengah.
“Penutupan pemerintahan Amerika Serikat belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Presiden Trump bahkan mengatakan tidak ada jaminan pembayaran gaji bagi pegawai federal selama ‘shutdown’ pemerintahan,” kata Ibrahim, Kamis (9/10/2025).
Baca Juga:
Febrio Sebut Penyerapan Dana Rp200 Triliun Menggembirakan
Rupiah Masih Rentan Pelemahan terhadap Dolar AS
Selain itu, risalah hasil pertemuan the Fed bulan September, dengan suara bulat memutuskan untuk menurunkan suku bunga. “Keputusan ini pertama kalinya sejak akhir tahun 2024, the Fed juga mengisyaratkan pemangkasan dua kali lagi tahun ini,” ucap Ibrahim.
Dari hasil survey CME Fedwatch, pasar memperkirakan hampir 100 persen the Fed akan memangkas suku Bunga di bulan Oktober ini. Penurunannya diperkirakan sebesar 25 basis poin, namun kepastiannya masih menunggu pidato Ketua The Fed Jerome Powell hari Kamis.
Dari sisi geopolitik, Presiden Trump mengklaim Israel-Hamas telah menyetujui tahap pertama rencana gencatan senjata. Gencatan senjata berupa penghentian sementara pertempuran, pembebasan sandera dan penarikan tentara Israel secara bertahap dari Gaza.
Fakto eksternal itulah yang sedikit mendorong penguatan rupiah terhadap dolar. Sedangkan dari dalam negeri, pergerakan rupiah dipengaruhi oleh perkembangan Cadangan devisa Indonesia.
Data yang dirilis Bank Indonesia (BI) menyebutkan bahwa cadangan devisa hingga akhir September 2025 sebesar USD148,7 miliar. Jumlahnya menurun dibandingkan posisi cadangan devisa pada akhir Agustus yang tercatat sebesar USD150,7 miliar.
“Posisi cadangan devisa pada akhir September, setara dengan pembiayaan 6,2 bulan impor. Atau setara dengan pembiayaan 6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah,” kata Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso.
Denny juga mengatakan, meski menurun, posisi cadangan devisa Indonesia masih berada di atas standar kecukupan internasional. Yakni pembiayaan sekitar tiga bulan impor.
“BI menilai cadangan devisa masih tetap kuat untuk mendukung ketahanan eksternal. Serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” ucap Denny.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....